Penjual telur puyuh congkel Yuliono Purwanto mengatakan, jajanan jadul itu hits di era 2005 silam. Dan masih eksis hingga kini. "Awalnya berjualan karena ikut saja. Yang jual pertama orang Brebes masuk ke sini," katanya kepada Radar Jogja (9/6).
Laki-laki 51 tahun ini menjelaskan, awal berjualan pada 2011. Sudah 12 tahun lamanya ia ikut berjualan jajanan jadul itu. Warga Jambidan, Banguntapan, Bantul itu terus mempertahankan kualitas telur agar pelanggannya tidak pergi. Justru makin bertambah.
"Saya selalu jaga kualitas telurnya. Dengan membeli telur langsung dari peternak, kualitasnya bagus. Kalau beli dari pengepul, ada tingkatan beberapa hari, jadi sudah nggak fresh," ujarnya.
Jajanan itu mewarnai kemeriahan suasana Embung Potorono, tempat warga lokal jalan-jalan pada sore hari. Dia menjajakan menggunakan gerobak dengan sepeda motor.
Ratusan telur puyuh dan irisan daun bawang berada di gerobak itu. Sebuah kompor minyak lengkap dengan cetakan kue apem juga menghiasi sisi gerobak.
Ketika ada pembeli, penjual jajanan telur puyuh goreng itu baru mengolah jajanan itu, sehingga masih dalam kondisi hangat saat dikonsumsi. Beberapa butir telur dicampur sejumput irisan daun bawang dan tidak lupa sedikit garam sebagai perasa jajanan.
Campuran telur puyuh dan daun bawang itu kemudian digoreng menggunakan cetakan kue yang sudah diolesi minyak goreng. Setelah telur berwarna kecokelatan, kemudian dadar telur puyuh itu ditiriskan dan ditaruh di wadah kecil dari kertas.
Selanjutnya, dadar telur itu diberi saus dan kecap sesuai selera pembeli. "Iya penyajian dimakan pakai saos dan kecap gitu, sesuai selera," ujarnya.
Pelanggannya datang dari berbagai kalangan usia, mulai anak TK, SD, hingga remaja dan kuliah. Pelanggan sekarang mulai terjadi pergeseran, kebanyakan anak SMA atau kuliahan yang membelinya. Mereka ingin bernostalgia saat di zamannya.
"Kalau dulu masih kecil suka beli telur puyuh, sekarang ada yang sudah besar tetap beli ke saya. Sempat ketemu pelanggan yang dulu TK sekarang sudah kuliah. Katanya zaman jajanan saya TK, SD dulu," ceritanya.
Bapak dua anak ini bisa menjual 900 butir telur puyuh saat ada momentum atau event tertentu. Namun di hari-hari biasa hanya menghabiskan 70-150 butir. Selain mangkal sore hari, ia juga berkeliling ke sekolah SD dan TK. "Saya jual satu loyang Rp 6 ribu isi 24 butir. Kalau diceplok, satunya seribu," tambahnya. (wia/laz/sat) Editor : Editor Content