Dalam aksi ini terlihat pula perwakilan dari Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dan Brajamusti. Kedua kelompok ini kompak bekerjasama membersihkan setiap sudut kompleks Tamansiswa Jogjakarta. Sekaligus menjadi bukti bahwa kedua kelompok ini telah akur dan damai pasca peristiwa Jalan Tamansiswa, Minggu (4/6).
"Kami berpikir masa depan. Jadi bahwa memang permasalahan ini sudah selesai dan kita menata masa depan. Masa lalu jangan dibicarakan lagi, sekarang masa depan," jelas Kapolda DIJ Irjen Pol Suwondo Nainggolan saat ditemui di Kompleks Tamansiswa Jogjakarta, Jumat (9/6).
Diketahui bahwa kericuhan di Jalan Tamansiswa berimbas pada Museum Tamansiswa Dewantara Kirti Griya. Sejumlah perabot peninggalan Ki Hadjar Dewantara rusak. Akibat masuknya massa selama kisruh terjadi.
Suwondo berharap peristiwa tersebut cukup dikenang dan menjadi pelajaran bersama. Kedepannya bersama menata Jogjakarta menjadi lebih baik. Tentunya oleh seluruh elemen masyarakat.
"Diawali dari lingkungan Tamansiswa yang merupakan situs sejarah di Jogjakarta dan menjadi simbol persatuan," katanya.
Pengurus Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa Hariyanto mengapresiasi aksi reresik ini. Secara umum juga menjadi bukti bahwa seluruh elemen masyarakat di Jogjakarta kompak. Adanya perselisihan dapat diselesaikan secara cepat dengan kekeluargaan.
Dia mengajak seluruh pemuda di Jogjakarta meneladani sosok Ki Hadjar Dewantara. Terutama dalam menjunjung tinggi kebersamaan demi kebaikan bersama. Inilah yang dia lihat dalam aksi kerja bakti yang diinisiasi oleh Polda DIJ.
"Tidak menjadi Jogja yang kisruh, semua sudah kondusif. Ini hari ini bentuk kerja sama dilanjutkan dengan kerja bakti," ujarnya.
Hariyanto tak menampik sejumlah barang milik Museum Tamansiswa Dewantara Kirti Griya rusak saat terjadi tawuran. Ini karena ratusan massa masuk ke kompleks Tamansiswa. Adanya kepanikan membuat massa tidak melihat lingkungan sekitar saat melangkah.
Walau begitu, Hariyanto tidak ingin berlarut-larut membahas kerusakan tersebut. Dia hanya ingin tak ada perpecahan antara pemuda di Jogjakarta. Sehingga dapat terus guyub dan bersatu dengan mewujudkan Jogja Istimewa.
"Bukan pencitraan tapi ini memang kita sudah sepakat untuk menjaga supaya Jogja menjadi kondusif, Jogja Istimewa," katanya. (Dwi) Editor : Editor News