Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ikut Cawe-Cawe Siapkan Suksesi Pergantian Takhta

Editor Content • Selasa, 6 Juni 2023 | 13:00 WIB
Photo
Photo
RADAR JOGJA - Tidak ada kesulitan berarti bagi Pangeran Poeger menguasai Ibu Kota Negara (IKN) Kartasura. Pusat pemerintahan Negara Kesatuan Kerajaan Mataram (NKKM) praktis sudah di tangan Poeger. Istana Kartasura dalam keadaan kosong melompong. Ditinggalkan Susuhunan Amangkurat III atau Sunan Mas. Raja pergi dari istana sebelum Poeger tiba. Pasukan Poeger bergerak dari arah Semarang.


Begitu menguasai istana, pangeran  yang lahir dengan nama Raden Mas (RM) Drajat itu langsung lenggah dampar kencana alias duduk di atas singgana Mataram. Peristiwa ini terjadi pada 17 September 1705.


Putra Amangkurat I dari permaisuri Ratu Wetan atau Raden Ayu Wiratsari, putri Kajoran, Klaten itu segera mengadakan rapat kabinet. Poeger mengumpulkan para pembantunya. Agenda pengumuman kepada rakyat segera disusun. Diputuskan informasi telah terjadi pergantian takhta di Mataram disampaikan di Bangsal Sitihinggil.


Gelar raja baru itu selengkapnya sebagai berikut. Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono Senopati ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Ingkang Jumeneng Kaping Sepisan ing Keraton Mataram Kartasura Hadiningrat.


Singkatnya Poeger bergelar Paku Buwono (PB) I. Dengan sebutan itu, Poeger memakai nomenklatur gelar baru. Tidak lagi memakai gelar Amangkurat sebagaimana ayahnya, kakaknya, Amangkurat II maupun keponakan sekaligus mantan menantunya, Amangkurat III.


Penggunaan gelar baru itu sebagai pembeda dengan kakak maupun keponakannya. Meski sama-sama putra Amangkurat I,  Amangkurat II dan Poeger terlahir dari ibu yang berbeda. Kakaknya lahir dari permaisuri putri Surabaya atau Ratu Kulon. Sedangkan ibunda Poeger bernama Ratu Wetan. Asalnya dari Semarang tapi punya darah dari Kajoran, Klaten dan Giring, Sada, Paliyan, Gunungkidul.


 Dari darah ibunya juga masih keturunan Pangeran Purbaya, putra Panembahan Senopati, raja pertama Dinasti Mataram. Ibu Purbaya bernam Raden Ayu Rara Lembayung Niken Purwasari, anak Ki Ageng Giring III.


Setelah diperistri Senopati mendapatkan gelar Ratu Giring. Statusnya bukan permaisuri. Selama hidupnya tidak tinggal di Keraton Mataram di Kotagede. Tapi tetap  bermukim di Dusun Giring, Sada, Paliyan, Gunungkidul.


Dengan melihat asal usul ibunya itu, Poeger merupakan keturunan Ki Ageng Giring. Sesuai perjanjian Ki Ageng Giring  Pemanahan, ayah Senopati dengan Ki Ageng, setelah keturunan ke-7, maka penguasa Mataram beralih dari trah Pemanahan ke trah Giring. Kini perjanjian itu telah direalisasikan dengan naik takhtanya Poeger.


Bertakhtanya Poeger menjadi PB I menggeser Amangkurat III merupakan proses suksesi menyamping sekaligus menyimpang. Dari keponakan kepada paman. Ini hal baru dalam suksesi Mataram. Belum pernah terjadi sebelumnya. Paman menggantikan keponakan.


Sunan Mas dipaksa turun dari takhtanya. Kesediaannya lengser keprabon itu berkat ikut cawe-cawe-nya Pangeran Arya Mataram. Adik Pangeran Poeger itu sukses melobi Amangkurat III melalui operasi senyap.


Tanpa banyak diketahui orang, Arya Mataram mengaku harus ikut cawe-cawe  demi menyelamatkan masa depan Mataram. Dia tak ingin pergantian takhta selalu menimbulkan malapetaka.


Raja diyakinkan demi menghindari pertumpahan darah yang lebih besar sebaiknya  tidak lagi melawan Poeger. Sebab, Poeger didukung pasukan koalisi VOC dan Madura. Kenyataannya pasukan Amangkurat III sudah keok  saat bertempur di Ungaran.


Arya Mataram meminta Sunan Mas diam-diam meninggalkan Kartasura. Sunan Kencet  dipersilakan bergabung dengan Untung Suropati di Pasuruan, Jawa Timur. Kepergian raja   bersama pengikutnya tidak akan diganggu. Lobi Arya Mataram itu manjur.

Kepala Badan Telik Sandi Mataram itu berhasil menjalankan misinya dengan sempurna. Ketika Poeger naik takhta tanpa ada tetesan darah di Kartasura. Arya Mataram cukup piawai. Dia punya jam terbang yang tinggi.


Sebelum menjadi kepala telik sandi, Arya Mataram pernah menjadi ajudan raja semasa Amangkurat II. Saat RM Sutikna menggantikan ayahnya menjadi Amangkurat III sebetulnya ingin mengangkatnya sebagai kepala Bhayangkara Negara.


Namun muncul resistensi. Ada sebagian elite Kartasura tidak setuju. Alasannya dia adik Poeger yang telah menjadi oposisi Amangkurat III. Akhirnya Arya Mataram diplot menjadi kepala telik sandi. Posisinya bisa diterima Sunan Mas maupun Poeger.


Meski berkuasa di Kartasura, PB I merasa ada yang kurang. Dia menjadi raja tanpa disertai pusaka-pusaka kerajaan. Semua pusaka penting Mataram dibawa Amangkurat III.  Tak ada satu pun yang tersisa. PB I menyadari tiadanya pusaka kerajaan berpengaruh terhadap legitimasinya sebagai raja.


Demi menenteramkan hati rakyatnya, PB I mengumumkan pusaka tertinggi Mataram adalah Masjid Demak dan makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, Demak. Selama dua pusaka itu ada, maka Mataram tetap tegak berdiri.


Di samping raibnya pusaka kerajaan, PB I dihadapkan perjanjian baru dengan VOC. Menggantikan perjanjian lama yang diteken kakaknya, Amangkurat II. Perjanjian lama berisi kewajiban melunasi biaya perang menumpas Trunajaya sebesar 4,5 juta gulden. Sedangkan  dalam perjanjian baru berisi kewajiban Mataram mengirimkan 13 ribu ton beras setiap tahun  kepada VOC. Kewajiban ini berlaku selama 25 tahun. (laz) 
Editor : Editor Content
#Cerbung #Kusno S. Utomo #masjid mataram #masjid kotagede #Perjanjian Klaten 1830