RADAR JOGJA - Mataram pernah mengalami perang suksesi antara Raden Mas (RM) Rahmat melawan RM Drajat. Keduanya sama-sama putra Susuhunan Amangkurat I. Sama-sama lahir dari permaisuri. Rahmat dari Ratu Kulon dan Drajat anak Ratu Wetan. Ratu Kulon asalnya Surabaya. Sedangkan Ratu Wetan dari Semarang tapi masih keturunan Kajoran, Klaten.
Perang suksesi pertama terjadi usai Amangkurat I wafat pada 13 Juli 1677. Kala itu Rahmat sudah menjadi putra mahkota bergelar Pangeran Adipati Anom. Sedangkan Drajat masih bernama Pangeran Poeger. Keduanya sama-sama mengklaim sebagai raja dengan istana berbeda.
Putra mahkota membangun ibu kota negara (IKN) baru Kartasura. Gelarnyaelanjutkan ayahnya, Sunan Amangkurat II. Adapun Poeger bertakhta di IKN lama Pleret yang sempat jatuh ke tangan Trunajaya. Poeger memakai sebutan Sunan Ing Ngalaga.
Akhir dari perang suksesi pertama itu, Amangkurat II menjadi pemenang. Poeger mengakui keunggulan kakaknya. Poeger kembali menjadi pangeran biasa. Sementara waktu stabilitas politik di Mataram terjaga dengan baik.
Namun kondisi itu tak bertahan lama. Begitu Amangkurat II wafat pada 1703, krisis politik kembali terulang. Pemicunya sama. Perebutan tahkta. Kali ini pihak yang terlibat bukan lagi kakak melawan adik. Tapi keponakan versus paman. RM Sutikna putra mahkota Amangkurat II berhadapan dengan Poeger. Perang suksesi kedua terjadi.
Dikutip dari Babad Tanah Djawi menceritakan, semasa hidupnya Amangkurat II punya beberapa orang istri. Namun dia hanya punya seorang anak laki-laki dari permaisuri. Itu terjadi karena ibunda putra mahkota telah mengguna-guna istri-istri Amangkurat II lainnya.
Akibatnya, mereka menjadi mandul. RM Sutikna juga kerap dijuluki Pangeran Kencet. Dia menderita disabilitas di bagian tumit. Nantinya saat bertakhta, Sutikna bergelar Amangkurat III alias Sunan Mas. Atau juga dikenal dengan sebutan Sunan Kencet.
Sebelum naik takhta menggantikan ayahnya 1703, Amangkurat III merupakan menantu dari Poeger. Statusnya keponakan sekaligus menantu. Putri Poeger, Raden Ayu Lembah dinikahi Sutikna semasa masih menjadi putra mahkota. Namun usia perkawinan keduanya tidak langgeng.
Lembah dicerai karena ketahuan selingkuh dengan Raden Sukra, putra Patih Sindureja. Lembah kemudian menjalani hukuman mati. Mayatnya dimakamkan di Banyusumurup, Girireja, Imogiri, Bantul. Hukuman serupa diterima Sukra.
Adipati Anom kemudian mengawini Raden Ayu Himpun, salah satu adik Lembah. Himpun diangkat menjadi permaisuri. Namun, usia perkawinan keduanya lagi-lagi tidak panjang. Amangkurat III kembali mengadakan reshuffle permaisuri.
Sunan Mas mengangkat permaisuri ketiga dari Desa Onje, Banyumas. Sebuah tradisi baru terjadi. Permaisuri penguasa Mataram bukan keturunan raja. Namun dari rakyat kebanyakan. Bukan lagi trahing kusuma rembesing madu.
Konflik Amangkurat III melawan Poeger semakin mengeras. Jauh sebelum bertakhta, Sunan Mas telah menjalin persahabatan dengan Bupati Pasuruan Untung Suropati. Jalinan itu terjadi sejak Untung Suropati lari dari Batavia. Meminta suaka politik dari Amangkurat II, ayahanda Sutikna.
Persahabatan Sunan Mas dan Untung Suropati itu disampaikan Poeger kepada pimpinan VOC. Kejadiannya saat mengungsi ke Semarang. Ini menyusul adanya ancaman terhadap Poeger dan keluarganya dari rezim Amangkurat III.
Saat berada di markas VOC, Poeger membeberkan keponakan dan mantan menantunya adalah musuh bersama. Sebab, dia telah bersekutu dengan Untung Suropati. Kepada Kompeni, Poeger meyakinkan banyak pejabatMataram tidak menyukai kepemimpinan Amangkurat III.
Mereka lebih mendukung Poeger agar memimpin Mataram. Poeger dukungan VOC minta agar kedudukannya sebagai raja diakui. Poeger kemudian mendeklarasikan sebagai raja Mataram di Semarang pada Juni 1704. Tepat setahun usai Amangkurat III naik takhta.
Tak lagi memakai sebutan Amangkurat. Poeger menggunakan gelar anyar, Susuhunan Paku Buwono (PB) I. Dukungan terhadap Poeger dalam waktu singkat meluas. Bupati-bupati pesisir menyatakan ikrar setia. Mendukung kebulatan tekad, lahir dan batin berdiri di belakang PB I.
Memasuki Agustus 1705 pasukan gabungan Jawa, Madura, dan Kompeni bergerak menuju Kartasura. Sebulan kemudian pasukan koalisi ini memasuki Istana Kartasura. Tak ada perlawanan berarti dari Amangkurat II. Sunan Mas berhasil dilengserkan.
Tidak perlu menunggu lama PB I berhasil menduduki takhta kerajaan. Amangkurat III lari ke Jawa Timur. Sunan Mas menjadi buronan politik. Masuk daftar pencarian orang (DPO). Amangkurat III menjadi orang yang paling dicari.
Tahu itu, dia meminta perlindungan kepada Untung Suropati. Persis yang dilakukan Untung Suropati. Saat lari dari Batavia dan berlindung di Kartasura semasa ayahnya berkuasa. Sejarah selalu berulang. (laz)
Editor : Editor Content