RADAR JOGJA - Guru Besar UNY menggelar ketoprak dengan lakon Suminten Edan Jumat (26/5) malam. Hal ini dilakukan untuk mengenalkan seni dan budaya tradisional. Khususnya bagi para dosen yang sebelumnya belum pernah terlibat dalam kesenian ketoprak.
Sutradara Suminto A Sayuti mejelaskan, para pemain ditantang untuk berimprovisasi. Sebab, latihan hanya digelar tiga kali. "Paran guru besar itu terbiasa menulis karya ilmiah yang biasanya memiliki kata kunci. Dan dalam pertunjukan kali ini, saya juga memberikan kata-kata kunci saja untuk mereka. Dan selebihnya mereka ditantang untuk improvisasi," bebernya di Performance Hall FBSB UNY Jumat malam (26/5).
Menurutnya, lakon Suminten Edan ini dipilih karena mempunyai cerita berbasis historiografi yang mudah untuk diperlakukan dalam pertunjukan ketoprak.
Suminto juga menegaskan, jika pementasan ketoprak guru besar ini untuk mendidik civitas akademika UNY agar lebih peduli terhadap keberlanjutan budaya. Seni budaya diharapkan dapat terus hidup dan tidak tercerabut dari bumi sendiri.
"Melalui panggung ketoprak ini, UNY berusaha melestarikan kebudayaan dengan menghadirkan pertunjukan yang menghibur sekaligus mendidik,” tegasnya.
Dekan FBSB UNY Sri Harti Widyastuti mengatakan, pagelaran ketoprak ini juga sebagai sarana untuk mempersatukan para dosen, karyawan, serta mahasiswa yang ada di UNY.
"Semua kita libatkan, karena biar kita bisa melebur dan tidak ada sekat. Sebab kemajuan itu hanya bisa diraih kalau kita bisa kompak," cetusnya.
Mahasiswa Sastra Indonesia Haris Kurniawan berharap, jika acara seperti ini bisa terselenggara kembai. Sebab ini adalah suatu momen penting bagi para pelaku yang terlibat. "Kita bisa berekspresi bersama tanpa ada rasa malu dan cangung di atas panggung," tandasnya. (cr2/eno) Editor : Editor Content