TEWASNYA Pangeran Pekik dan istrinya Ratu Pandansari karena tuduhan politik hendak mempercepat susesi di Mataram, benar-benar memukul perasaan putra mahkota Pangeran Tejaningrat. Pemilik nama muda Raden Mas (RM) Rahmat itu tidak dapat menerima keputusan politik ayahandanya, Susuhunan Amangkurat I.
Rahmat terus menyusun strategi politik. Dia pun kerap berziarah ke makam kakek dan neneknya itu di makam Banyusumurup. Lokasi Banyusumurup ada di selatan makam Girilaya dan Pajimatan Imogiri. Kedua makam itu ada di atas bukit. Sedangkan Banyusumurup ada di pojok hutan di sebuah lembah di kelilingi tiga bukit dekat pegungan selatan. Makam ini dibangun di era Amangkurat I. Raja kelima Mataram itu bukan hanya pelopor pembangunan infrastruktur dan maritim.
Dia juga inisiator dibangunnya makam yang khusus dipakai untuk lawan-lawan politik. Terutama mereka yang dianggap berupaya melawan kekuasaan Pangeran Sayidin. Nama sebelum dirinya jumeneng sebagai Amangkurat I menggantikan ayahnya Sultan Agung.
Lawan politik pertama yang menghuni Banyusumurup adalah Pangeran Pekik dan istrinya Ratu Pandansari. Kemudian ada makam Rara Hoyi, gadis Surabaya yang hendak dijadikan selir Amangkurat I. Namun belum jadi dinikahi Amangkurat I, Rahmat jatuh hati pada Hoyi. Pekik kemudian menikahkan keduanya.
Kejadian ini mengundang murka Amangkurat I. Rahmat yang sudah diangkat sebagai putra mahkota mendapatkan teguran kerasnya. Pilih takhta atau wanita. Bila tetap melanjutkan dengan Hoyi, maka status sebagai calon penerus takhta terancam dibatalkan secara permanen. Mahkamah Keraton (MK) siap melegalkan keputusan pembatalan itu.
Sebaliknya, kalau memilih tahkta, Rahmat harus berpisah dengan Hoyi. Konsekuensinya mengakhiri hubungan dengan Hoyi. Putra mahkota tetap ingin menjadi pewaris takhta.
Rahmat akhirnya bertindak mengeksekusi Hoyi. Jasadnya dimakamkan di Banyusumurup. Dia juga dikenal dengan nama Ratu Hamangkurat Amral. Gelar Rahmat saat bertakhta sebagai raja. Susuhunan Amangkurat II atau Hamangkurat Amral. Ini karena dia biasa memakai pakaian militer, admiral.
Menuju makam Banyusumurup, setelah melewati ujung dusun, jalan menyempit melewati sebuah jembatan kecil. Dari jauh sudah tampak kompleks cepuri makam. Terdapat mustaka musala. Letak makam benar-benar di ujung lembah dengan banyak pepohonan diapit bukit. Makam para tokoh pemberontak atau kraman terhadap raja.
Selain di masa Amangkurat I, kebanyakan yang dimakamkan di Banyusumurup terjadi pada era Amangkurat II dan Amangkurat III hingga mendekati Geger Spoy di zaman Kasultanan Ngayogyakarta di era Sultan Hamengku Buwono II.
Namun ada beberapa tokoh yang sempat dimakamkan di Banyusumurup kemudian direhabilitasi dengan cara dipindahkan makamnya di lokasi lain. Contohnya Bupati Madiun Rangga Prawiradirja III, ayah dari Sentot Alibasya Prawiradirja. Pada 1957 Sultan Hamengku Buwono IX memerintahkan memidahkan jazad Rangga Prawiradirja III ke makam Giripura Magetan, Jawa Timur berdampingan dengan makam permaisurinya Gusti Raden Ayu Maduretna, putri Sultan HB II.
Kemudian Patih Danureja II yang terkenal dengan pepatih dalem seda ing kedhaton karena dicekik HB II dengan dihukum lawe di dalam Keraton Jogja pada 28 Oktober 1811. Makamnya dipindahkan dari Banyusumurup ke makam di dekat Masjid Patok Nagara Mlangi pada 1856.
Putri Danureja II itu kemudian menjadi permaisuri Sultan HB IV yang menurunkan HB V dan HB VI. Ayah Danureja II, Tumenggung Danukusuma dihukum saat menjalani pengasingan di Pacitan pada 15 Januari 1812. Jasadnya juga dipindahkan dari Banyusumurup ke Mlangi.
Di Banyusumurup juga ada makam Ratu Lembah. Dia putri Pangeran Poeger yang kemudian menjadi Susuhunan Paku Buwono I. Ratu Lembah pernah menjadi permaisuri Amangkurat III, putra Amangkurat II. Kedudukan sebagai permaisuri dicopot karena ketahuan berselingkuh dengan Raden Sukro, putra pepatih dalem Sindureja di masa Ibu Kota Negara (IKN) Mataram berpusat di Kartasura. Ratu Lembah dieksekusi mati. Begitu pula pasangan cintanya, Raden Sukro. (pra)
Editor : Editor Content