RADAR JOGJA – Beberapa kasus kekerasan seksual di lembaga pendidikan menjadi keprihatinan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI Bintang Puspayoga. Dia pun mendorong lembaga pendidikan, termasuk pesantren, aktif ikut mencegah aksi kekerasan seksual.
Harapan itu disampaikan saat mengunjungi Madrasah Muallimat Muhammadiyah, Rabu (17/5). Sekaligus meresmikan predikat "Pesantren Perempuan Cinta Anak".
Bintang menyebut, gagasan yang diusung oleh Muallimat sejalan dengan program dari Kementrian PPPA RI. Yaitu menciptakan pesantren yang menyenangkan bagi anak. “Sehingga anak-anak dapat mengisi masa remajanya dengan kegiatan-kegiatan yang positif dan bermanfaat bagi masa depannya," ujarnya.
Bintang juga meminta agar pesantren menjadi model lembaga pendidikan yang berperan aktif untuk mengupayakan pencegahan tindakan kekerasan seksual. "Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua yang ada di Indonesia yang memiliki peran dan posisi strategis untuk berupaya menegakkan perlindungan anak yang ada di Indonesia," katanya.
Madrasah, kata dia, menjadi tempat yang sangat layak dan nyaman untuk mendidik proses tumbuh kembang santriwati menuju ke usia yang dewasa. Pemberdayaan perempuan bisa diarahkan melalui ekstrakulikuler. “Yang di mana para santriwati ini dididik dan diarahkan untuk menjadi perempuan yang tanguh dan mandiri," jelasnya.
Direktur Madrasah Muallimat Jogja Unik Rasyidah mengatakan, madrasah yang dirintis oleh pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan itu sejak awal telah berkomitmen menerapkan pola pendidikan antikekerasan. "Baik itu memukul, atau bahkan mencubit sekalipun itu tidak diperkenankan," cetusnya.
Dalam proses pembelajaran, ia secara tegas mengatakan bahwa seluruh guru dan tenaga pendidikan di Madrasah Muallimat ini dilarang keras menggunakan kekerasan. Baik itu kekerasan secara verbal maupun nonverbal. "Hadirnya Bu Menteri ini tentu menjadi motivasi tersendiri bagi kami untuk menghadirkan pesantren yang anti kelerasan," tuturnya. (cr2/pra) Editor : Editor Content