Koordinator Angkutan Motis Stasiun Lempuyagan Asep Syamsudin menuturkan peminat program ini tetap ada. Terlebih setiap pemudik cukup membayar Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu per orangnya. Sementara untuk angkutan Motis gratis tanpa dipungut biaya apapun.
“Hari ini ada 48 unit sepeda motor ke arah Jakarta Gudang, dan tadi pagi 07.00 WIB arah ke Motis selatan 25 unit sepeda motor ke arah Kiaracondong,” jelasnya ditemui di Stasiun Lempuyangan, Jumat (28/4).
Meski gratis, namun Asep mengakui minat pemudik tidak terlalu tinggi. Terbukti dari kapasitas hingga 100 motor perhari hanya terisi setengahnya. Dia menduga rute yang hanya sampai Purwosari Solo menjadi salah satu penyebab.
Pada program Motis tahun sebelumnya, melayani hingga kawasan Surabaya. Sehingga gerbong kargo terlihat lebih terisi. Ini karena melayani rute dari Jakarta maupun Bandung hingga Surabaya.
“Tapi untuk peminat tetap tergolong tinggi meski hanya sampai Purwosari. Untuk arus balik ini masih sampai 5 Mei 2023. Angkutan tertinggi kemarin ini (27/4) dengan tujuan Jakarta Gudang memuat sekitar 55 motor,” katanya.
Untuk syarat, Asep memastikan tidak mempersulit para pemudik. Cukup menunjukan STNK dan SIM yang masih aktif. Selain itu juga menunjukan KTP beserta Kartu Keluarga. Untuk satu kendaraan mendapatkan jatah maksimal 4 tiket penumpang.
Motis dan pemiliki berangkat secara bersamaan. Tersedia 4 rangkaian gerbong untuk penumpang. Sementara untuk Motis disediakan 3 rangkaian gerbong barang.
“Penumpang bersamaan dengan motor. Jadi orangnya bisa langsung turun malam itu, bisa langsung diambil di posko untuk motornya,” ujarnya.
Asep mendorong agar para pemudik memanfaatkan program ini. Terutama untuk yang aka melakukan arus balik ke Jakarta dan Bandung. Selain murah, pemudik juga terhindar dari rasa lelah selama kembali ke perantauan.
“Menghindari kemacetan, dua kerawanan kecelakaan. Kan bisa jadi terjadi naik motor bisa lelah, kelelahan dan ini bahaya. Jadi cukup dengan Rp 20 ribu dari sampai Jakarta dan Bandung,” katanya. (dwi) Editor : Editor News