Sayidin otomatis menjadi calon pewaris takhta Mataram. Sejak pengangkatan itu, dia mendapatkan berbagai penugasan dari ayahnya. Tugasnya ditingkatkan dari pangeran biasa menjadi putra mahkota. Di pundaknya masa depan Mataram dipertaruhkan.
Dengan penugasan itu, Sayidin menjadi lebih sibuk. Dia harus meneruskan jalinan hubungan bilateral Mataram dengan berbagai kerajaan. Dia juga harus memimpin berbagai operasi penaklukan ke berbagai daerah seperti Surabaya, Giri, dan Blambangan.
Sayidin juga menjajaki kerja sama dengan VOC dan Portugis. Dua kongsi dagang itu mulai membuka komunikasi dengan Mataram. Pangeran muda itu kerap menerima tamu-tamu dari Batavia.
Semua tugas itu dijalankan di bawah bimbingan dan arahan Ibu Suri. Pengaruh Ratu Batang cukup kuat. Nyaris semua kebijakan kenegaraan Mataram harus melalui Ratu Batang. Sang Ratu bukan hanya politikus. Dia juga pengusaha sukses. Tuan tanah dan eksportir. Antara lain kebutuhan sembako hingga mebeler dari Jepara.
Di tengah putranya menikmati status sebagai puta mahkota, muncul masalah. Pangeran Arya Mataram ini kesandung persoalan serius. Dia terlibat drama percintaan dengan salah satu istri petinggi Mataram, Tumenggung Wiraguna.
Sayidin dilaporkan melakukan overspell alias perzinaan dengan Nyai Lasem, salah satu istri tercantik Wiraguna. Sesuai namanya, Nyai Lasem berasal dari Lasem, Rembang. Dia anak ulama dari daerah tersebut. Selain berparas cantik, Nyai Lasem memiliki tubuh yang putih bersih dan wangi. Kemolekan ini membuat putra mahkota kesengsem.
Pertemuan pertama bermula saat Sayidin menghadiri rapat kerja di Ndalem Wiragunan. Perjumpaan itu begitu menggoda. Wajah Nyai Lasem membuat hati putra mahkota kesengsem.
Sayidin menyusun siasat. Saat Wiraguna mendapatkan surat perintah perjalanan dinas (SPPD) ke Banten, Sayidin memanfaatkan momentum itu. Dia menculik Nyai Lasem dari kediamannya. Begitu pulang dari Banten, Wiraguna tidak menemukan sang istri.
Dia mengumpulkan anggota tim telik sandi Mataram. Kebetulan Wiraguna juga menjadi salah satu deputi di Badan Intelejen Mataram (BIM). Hasil laporan telik sandi menginformasikan keberadaan Nyai Lasem berada di kediaman putra mahkota.
Laporan lengkap tentang kejadian itu disampaikan ke Susuhunan Agung. Bagi Wiraguna tak mungkin dirinya langsung bertindak. Dia harus berhitung ulang dengan status putra mahkota. Di pihak lain, kasus itu menjadi perhatian elite Mataram. Muncul kasak kusuk. Status putra mahkota didesak ditinjau ulang. Sayidin harus dicopot dari kedudukan. Alasannya dia melakukan perbuatan buruk. Tidak lagi memenuhi syarat prestasi, dedikasi, loyalitas, dan tidak tercela (PDLT).
Salah satu pihak yang bersuara keras agar status putra mahkota dicopot datang dari Tumenggung Danupaya. Dia merupakan guru spiritual Pangeran Alit, adik Sayidin. Ada harapan bila raja menganulir status putra mahkota, maka alternatif penggantinya adalah Pangeran Alit. Danupaya juga pejabat senior Mataram.
Sayidin lebih dulu menemui ibunya sebelum menghadap ayahnya. Dia mengakui kesalahannya dan bersedia dihukum. Untuk selama-lamanya tidak bertemu muka dengan Susuhunan. Dia menyembah merangkak perlahan-lahan ke belakang. Sayidin juga mencukur rambutnya.
Nyai Lasem yang diculiknya dikembalikan ke suaminya dengan tandu yang ditutup kain linen, putih warna duka. Wiraguna tak bisa menahan amarahnya. Dia menarik keris dan membunuh istrinya dengan lebih dari enam kali tusukan.
Susuhunan puas dengan kearifan putranya. Raja menyesalkan dengan keberingasan Wiraguna. Status putra mahkota yang disandang Sayidin urung dicabut. Kedudukannya batal di-reshuffle. Namun dia tetap harus menjalani hukuman. Selama tiga tahun diasingkan keluar dari keraton. (laz) Editor : Editor Content