Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tiga Tahun Absen, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat Kembali Gelar Garebeg

Editor News • Rabu, 19 April 2023 | 07:03 WIB
SUNYI : Suasana Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dari Alun-Alun Utara, Selasa (18/4). (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
SUNYI : Suasana Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dari Alun-Alun Utara, Selasa (18/4). (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat akan menggelar rangkaian peringatan Idul Fitri 1444 H. Utamanya adalah proses Garebeg dengan tujuh buah Gunungan. Prosesi ini sempat berhenti selama tiga tahun akibat pandemi Covid-19.

Garebeg Syawal akan berlangsung dengan iring-iringan 10 Bregada Prajurit Karaton. Sebelumnya diawali dengan Numplak Wajik di Panti Pareden pada Rabu (19/4). Berlanjut dengan Gladi Bersih Bregada Prajurit Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat pada Kamis (20/4).

“Lalu garebeg berlangsung pada 22 April 2023 atau 1 Syawal Ehe 1956. Lokasinya dari Keraton menuju Kagungan Dalem Masjid Gedhe Kauman. Lalu dua gunungan kakung, masing-masing dibawa ke Pura Pakulaman dan Kepatihan,” jelas Penghageng KHP Parasraya Budaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat GKR Maduretno dalam keterangan tertulisnya, Selasa (18/4).

Prosesi berlanjut dengan Ringgitan Bedhol Songsong lakon Jumenengan Prabu Kresna. Berlangsung di Kagungan Dalem Bangsal Pagelaran, Sabtu malam (22/4). Prosesi ini juga disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube milik Keraton Jogjakarta.

Gusti Madu sapaannya, menuturkan pelaksanaan Garebeg Syawal tahun ini berbeda. Iring-iringan bregada prajurit dan tujuh gunungan tidak akan melintas Alun-alun Utara. Titik awal dari Bangsal Ponconiti, Kamandungan Lor. Diusung oleh abdi dalem Kanca Abang.

“Nanti melalui Regol Brajanala, Sitihinggil Lor, Pagelaran dan keluar lewat barat Pagelaran menuju Masjid Gedhe. Di Masjid Gedhe ini didoakan terlebih dahulu,” katanya.

Gusti Madu mengimbau bagi masyarakat yang turut berpartisipasi mengikuti rangkaian Garebeg Syawal tetap tertib dan taat protokol kesehatan. Termasuk saat merayah gunungan setelah gunungan tersebut selesai didoakan,

Puteri ketiga Sri Sultan Hamengku Bawono ka 10 ini meminta masyarakat mengikuti prosesi. Ini karena prosesi diawali dengan doa di Masjid Gedhe Kauman. Tujuannya untuk menjaga tradisi budaya yang telah ada. 

“Tunggu didoakan dahulu, jadi jangan langsung dirayah. Tetap menjaga ketertiban agar pelaksanaan Garebeg Syawal dapat berjalan dengan baik. Dimohon untuk memberikan jalan pada iring-iringan bregada prajurit dan gunungan," pesannya.

Total ada 10 Bregada Prajurit Karaton yang akan mengawal gunungan Diantaranya Wirabraja, Dhaeng, Patangpuluh, Jagakarya, Prawiratama, Ketanggung, Mantrijero, Nyutra, Bugis, dan Surakarsa.

Bregada Bugis akan mengawal gunungan hingga Kepatihan. Sementara gunungan untuk Pura Pakualaman akan dikawal oleh Prajurit Pura Pakualaman yakni Dragunder dan Plangkir.

“Sementara untuk gunungan ada lima jenis. Diantaranya Gunungan Kakung, Gunungan Estri atau Wadon, Gunungan Gepak, Gunungan Dharat, dan Gunungan Pawuhan,” ujar Penghageng II Kawedanan Nitya Budaya KRT Rinta Iswara.

Akan ada tiga Gunungan Kakung, peruntukannya masing-masing untuk Masjid Gedhe, Pura Pakualaman, dan Kepatihan. Sementara yang lainnya masing-masing berjumlah satu buah dan ikut dirayah di Masjid Gedhe Kauman.

Terkait makna, Garebeg merupakan salah satu upacara yang hingga saat ini rutin dilaksanakan oleh Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kata Garebeg, berasal dari Bahasa Jawa memiliki arti berjalan bersama-sama di belakang Ngarsa Dalem atau orang yang dipandang seperti Ngarsa Dalem.

"Garebeg yang dilakukan di Keraton adalah Hajad Dalem, sebuah upacara budaya yang diselenggarakan oleh Karaton dalam rangka memperingati hari besar agama Islam yakni Idul Fitri, Idul Adha, dan Maulid Nabi Muhammad SAW," katanya.

Sementara gunungan merupakan perwujudan kemakmuran Karaton. Juga bermakna pemberian dari Raja kepada rakyatnya. Sehingga makna Garebeg Syawal secara singkatnya adalah perwujudan rasa syukur akan datangnya Idul Fitri.

“Diwujudkan dengan memberikan rezeki pada masyarakat melalui ubarampe gunungan yang berupa hasil bumi dari tanah Mataram," ujarnya. (Dwi) Editor : Editor News
#Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat #GKR Maduretno #garebeg syawal #KRT Rinta Iswara