Sejak 2016, perempuan asal Jogja tersebut telah mendalami wilayah kerja media, jurnalis, public relation dan komunikasi yang juga ikut mendukung pekerjaan nya menjadi master of ceremony di lebih dari 30 event. Baik event seni, budaya dan company.
Grace mengaku aktif dalam kegiatan ekstrakulikuler seperti pramuka, basket, jurnalistik, karya ilmiah, olimpiade astronomi, OSIS, dan Tonti. Malah kegiatan yang berbau seni dan budaya jarang diikuti. Terkadang paduan suara dan pelajaran muatan lokal seni rupa yaitu membatik.
Berbicara soal kesenian mungkin tidak akan jauh dari kedua orang tuanya, karena ibunya grace dulu pernah bersekolah di SMKI Tari dan ayahnya kuliah arsitektur. Jadi mungkin pola kesenian Grace pernah melihat dari kedua orang tuannya.
"Jadi bisa dikatakan ini ditemukan sendiri, tetapi kalau ada ketertarikan di dunia seni rupa itu sudah sejak dulu, sampai pada akhirnya saat SMA aku memutuskan untuk kuliah di ISI," ujar Garace.
Sejak masuk kuliah di jurusan Tata Kelola Seni di ISI Jogja Grace merasa dirinya sudah ingin hidup mandiri. Karena manurut Grace sejak SMA, dirinya banyak mempunyai teman yang perantau sehingga membuatnya ingin hidup mandiri seperti perantau walaupun ia tinggal di daerahnya sendiri yaitu di Jogja.
Maka setelah lulus SMA, Grace memutuskan dirinya untuk bekerja supaya ia bisa membiayai kuliahnya sendiri. Pada 2014 saat lulus SMA, Grace ingin tes narkoba untuk daftar kuliah. Diakui biayanya waktu itu lumayan tinggi. “Aku tidak bilang ke siapa-siapa dan saat itu aku tidak punya uang, maka saat itu aku memutuskan untuk bekerja dulu," ungkapnya.
Grace juga mengaku jika dalam satu tahun sebelum kuliah sibuk bekerja mencari uang sendiri demi cita-citanya. Ia mengaku pernah bekerja di bagian administrasi Radio Petra, menjadi guru les matematika untuk anak SD. Dari situlah Grace bisa mengumpulkan uang untuk mendaftar kuliah di ISI.
Selama kuliah Grace juga masih bekerja di Radio Petra, di tempat outbound, asisten atau staf diadministrasi di Jogja Nasional Museum (JNM). Ia juga banyak mengikuti dan mendaftar sebagai relawan di kegiatan berbagai event yang ada di Jogja.
Sejak kuliah, Grace sudah banyak memegang dan menjadi koordinator event besar nasional maupun internasional. Tak hanya itu saja, ia pun sering menjadi moderator ataupun MC di acara-acara yang masih berbau kesenian.
Sementara itu, dunia perhelatan seni rupa menjadi bidang yang juga membuat Grace tertarik dan mendalaminya. Bagi Grace, bekerja di belakang layar memberi kepuasan tersendiri ketika berhasil membuat sebuah perhelatan sukses digelar.
“Bukan hanya soal seberapa banyak sebuah perhelatan seni rupa dan event yang lainnya dikunjungi masyarakat, namun juga seberapa banyak karya tersebut menarik untuk dikoleksi dan diapresiasi oleh masyarakat,” ujarnya.
Selain memberi efek positif bagi sang seniman, tentu saja Grace berharap sebuah perhelatan seni bisa memberi dampak yang sama positifnya terhadap orang orang yang terlibat di dalamnya dan juga lingkungan sekitar.
Wanita kelahiran 24 Februari 1996 ini mengaku dalam dunianya tersebut banyak suka mau pun duka. Seperti banyak hal yang tidak jelas kadang jengkel yang mendorongnya ingin pergi. "Tapi aku sudah berkomitmen kalau sudah start ya harus tetap saya selesaikan," katanya.
Grace berharap dapat meneruskan pendidikannya di S2. Ia pun ingin membangun tim manajemen dengan orang-orang yang tepat. Serta menjadi konsultan buat orang-orang yang akan menngelar event.
"Semoga harapan saya tercapai. Bagaimana saya bisa memberi masukan kepada teman-teman yang berkonsultasi terhadap acaranya," harapnya. (cr2/bah) Editor : Editor Content