Kepala Dishub Kota Jogja Agus Arif Nugroho membenarkan, kemacetan di Kota Jogja itu nyata. Terjadi terutama saat musim liburan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah menyediakan transportasi umum. Namun, pergerakan transportasi umum pun terbatas oleh minimnya jalan.
TransJogja merupakan transportasi umum andalan untuk menyusuri Kota Jogja. Namun, aksesibilitasnya terbatas oleh jalanan. Lantaran tidak memiliki jalur yang stretil. "TransJogja tidak ada jalur khusus," paparnya.
Agus mengatakan, TransJogja andal saat jalanan lengang. Tapi jika jalanan macet, aksesibilitasnya turut terhambat. "Kalau kondisi macet, orang naik TransJogja sama saja menggerutu,’’ sebutnya.
Oleh sebab itu, perlu perencanaan matang dalam menyusul lalu lintas di Kota Jogja. Pemikiran harus diproyeksi untuk 25 tahun ke depan. "Ini menjadi tantangan. Apa iya, kita masih mau berkutat dengan kendaraan pribadi? Nggak mampu," lontarnya.
Kepala Dishub DIJ Ni Made Dwipanti Indrayanti pun menegaskan, pihaknya berkomitmen dalam mengurangi kepadatan jalan. Oleh sebab itu, dia mendukung agar pengguna kendaraan pribadi pindah ke kendaraan umum. “Protesnya macet, tidak sadar (faktor pendorong kemacetan, Red) pengguna kendaraan pribadi,” ujarnya.
Made menyatakan, kepadatan jalanan Kota Jogja dipastikan berkurang. Bila pengguna kendaraan pribadi pindah ke angkutan umum. Sehingga keluhan tentang kemacetan di Jogja juga dapat ditekan. Utamanya pada akhir pekan dan libur panjang. “Kendaraan masuk Jogja dari grafik, stuck saat Jumat-Minggu. Mau cari jalan ke mana saja, penuh. Ingat di Jogja nggak mungkin nambah jalan loh,” cecarnya.
Made mengatakan, kepadatan jalanan di DIJ dapat semakin parah. Jika tak kunjung tumbuh kesadaran masyarakat untuk kembali pada angkutan umum. Terlebih, pada 2024 tol Jogja-Solo diprediksi segera beroperasi. Ditambah oleh akses lalu lintas DIJ selatan di Jalan Jalur Lingkar Selatan (JJLS). “Untuk mengurai kemacetan, bukan saja diurai oleh traffic di simpang ya. Tidak bisa. Tapi kesadaran masyarakat. Kalau tidak penting-penting banget, gunakanlah angkutan umum,” pesannya.
Dishub DIJ pun rencanakan penambahan fasilitas dalam memantapkan gerakan pindah ke transportasi umum. Seperti mengajukan halte di Lapangan Parkir Bandara Adisucipto. Sekaligus sebagai upaya membangun integrasi moda angkutan umum. Mulai dari bandara, stasiun, dan halte. “Harapannya (Lapangan Parkir Bandara Adisucipto, Red) juga jadi tempat parkir. Jadi masyarakat yang mau ke tengah kota untuk melakukan perjalanan, bisa titip mobil di sini. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan angkutan umum,” jabarnya. (fat/din) Editor : Editor Content