Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pembocor Sprint Dimutilasi, Kepalanya Ditanam di Imogiri

Editor Content • Kamis, 13 April 2023 | 13:00 WIB
Photo
Photo
RADAR JOGJA - Badan Intelejen Mataram (BIM) telah membuat laporan lengkap tentang penyebab gagalnya serangan ke Batavia pada 1628. Salah satunya, karena rencana operasi militer bocor ke tangan musuh. Ada petinggi kerajaan yang diduga sengaja membocorkan nawala atau semacam surat perintah (Sprint) operasi. Dampaknya semua serangan yang disusun Panglima Tentara Nasional Mataram Tumenggung Bahureksa buyar.

Bocornya Sprint itu juga harus dibayar mahal. Mataram bukan hanya gagal memenangkan pertempuran. Lebih dari itu, beberapa perwira tingginya gugur. Termasuk Bahureksa bersama dua putranya. Mereka meninggal di di depan Benteng Hollandia di Batavia pada 21 Oktober 1628.

Dari penyelidikan tim telik sandi Mataram diketahui pelaku pembocor Spint iu mengarah pada Tumenggung Endranata. Salah satu orang dekat Susuhunan Agung Hanyakrakusuma. Endranata punya posisi strategis di kerajaan. Dia masuk di antara lima anggota Dewan Pertimbangan Kerajaan (Wantimraja). Tak heran Endranata bisa tahu seluk apa yang terjadi di istana. Berikut dengan kebijakan yang diambil Susuhunan.

Sejak namanya muncul sebagai pelaku pembocor Sprint, muncul desakan dari beberapa tokoh dan petinggi Mataram. Semua bersuara kompak. Usut tuntas kasus tersebut. Endranata harus diproses hukum. Tindakannya membocorkan Sprint harus dipertanggungjawabkan. Tidak boleh dibiarkan. Endranata tak bisa lenggang kangkung. Berdasarkan catatan, bukan sekali ini saja Tumenggung E, begitu para pejabat Mataram menyebutnya, bertindak kurang terpuji.

Secara etika, Endranata tak pantas duduk sebagai ketua Wantimraja. Moralitas dan integritasnya diragukan. Endranata dinilai telah melakukan pengkhianatan. Suara keras agar kasus Tumenggung E ini diproses datang dari tokoh senior Mataram Pangeran Purbaya dan Pangeran Adipati Juminah. Keduanya adalah paman Susuhunan Agung. Putra Panembahan Senopati. Pendiri Dinasti Mataram.

Bergulir desakan agar Endranata diperiksa oleh dewan pengawas. Selanjutnya diajukan ke pradata atau seperti pengadilan kerajaan. Endranata patut dijatuhi hukuman. Dewan pengawas dipimpin Tumenggung Sura Agul-Agul. Seorang yang berpengalaman sebagai jaksanagara. Ditambah beberapa orang ahli istana yang terpercaya reputasinya.

Sura Agul-Agul menjalankan tugasnya dengan baik. Bersama anggota dewan pengawas, mereka menemukan bukti cukup kuat. Tumenggung E terbukti membocorkan Spritn operasi militer ke Batavia ke pihak VOC. Rekomendasinya Endranata patut dijatuhi hukuman berat. Rekomendasi itu diajukan ke Susuhunan Agung. Raja yang berwenang menjatuhkan putusan. Terutama bentuk dan pelaksanaan hukuman.

Di tengah menghadapi tuduhan sebagai orang yang membocorkan Sprint, Endranata juga menghadapi kasus yang tidak kalah beratnya. Dia dilaporkan janda Adipati Pati Pragola II kepada Susuhunan. Istri Adipati Pragola terhitung masih adik sepupu Susuhunan Agung. Kepada raja dia mengadu suaminya telah menjadi korban hasutan Endranata sehingga berani melawan Mataram.

Peristiwanya terjadi pada 1627. Setahun sebelum Mataram gagal menyerang Batavia. Pragola II memutuskan berpisah dari Negara Kesatuan Kerajaan Mataram (NKKM). Adipati Pragola II memproklamasikan Pati Merdeka. Terpisah dari Mataram. Upaya Pati Merdeka itu dinilai sebagai tindakan separatis. Raja memutuskan untuk menggebuk Pati. Susuhunan memimpin langsung pasukan Mataram.

Tidak mudah bagi Mataram menundukan Pati. Pertempuran itu ibarat perang saudara. Pendiri Pati Ki Penjawi merupakan saudara sepupu Ki Ageng Pemanahan yang mengawali berdirinya Mataram. Eyang putri Susuhunan Agung yakni Ratu Mas Waskita Jawi, permaisuri Panembahan Senopati berasal dari Pati.

Perang saudara itu menyebabkan jatuhnya korban yang cukup besar. Ratusan ribu orang tewas dari kedua pihak. Raja turun langsung dengan memukul pusaka gong Kyai Becak. Namun gong macet. Tidak bunyi. Susuhunan kehilangan semangat. Dia berdoa kepada Allah. Gong Kyai Bicak kembali berbunyi dengan suara nyaring. Semangat pasukan Mataram timbul kembali.

Susuhunan menyerahkan pusaka tombak Kanjeng Kyai Ageng (KKA) Baru kepada lurah Naya Darma. Tepat saat raja sekali lagi memukul gong Kanjeng Kyai Bicak, Naya Darma menusuk Pragola yang mengenai lengan kirinya. Adipati Pati jatuh tersungkur dari kudanya. Cucu Ki Penjawi itu meninggal. Kedua pusaka itu sekarang tersimpan di Keraton Surakarta.

Mengetahui tindakan Endranata itu, Susuhunan Agung sangat murka. Endranata dijatuhi hukuman mati. Dua algojo keraton Singanegara dan Martalutut diperintahkan melakukan eksekusi. Dia bukan hanya tewas digantung. Tubuhnya kemudian dimutilasi. Isi perutnya dipertontonkan di Pasar Gede.

Kepala Endranataditanam di tangga depan Gapura Supit Urang Makam Imogiri. Setiap orang yang akan masuk ke makam Imogiri bakal menginjak tangga yang di bawahnya tertanam tubuh Endranata, si pembocor surat perintah. (laz) Editor : Editor Content
#Badan Intelejen Mataram