Ketua Departemen Filsafat dan Sosiologi Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Ariefa Efianingrum menyebut, bus masih jadi salah satu opsi orang-orang untuk mudik. Apalagi jika perbandingannya dengan transportasi umum lain seperti kereta api atau pesawat.
"Ini karena bis lebih terjangkau secara harga. Bahkan ada juga kan fasilitas mudik gratis dengan bus yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat," jelasnya kepada Radar Jogja, Sabtu (8/4).
Selain mengajar di UNY, Ariefa juga tergabung sebagai anggota Ikatan Sosiologi Indonesia (ISI) Jogjakarta. Anggota ISI sendiri mayoritas para kademisi dengan salah satu kegiatan adalah pembahasan dan penelitian mengenai fenomena-fenomena sosial.
Ariefa membeberkan, dirinya juga pernah mengalami mudik menggunakan armada bus. Yakni dulu saat mudik ke Ngawi, ke rumah suami. Belakangan selalu naik mobil karena sekaligus dengan anak-anak.
"Dan pas sampai di lokasi mudik, juga lebih fleksibel untuk mobilitas ke mana-mana. Tapi kan juga bus zaman dulu dengan sekarang berbeda. Saat ini sudah banyak inovasi dan peningkatan yang baik dilakukan," ujarnya.
Armada bus sendiri diketahui juga telah berupaya selalu meningkatkan fasilitas maupun pelayanan. Salah satu inovasi yang paling baru adalah adanya bus double decker.
Diakui Ariefa, segenap pihak mulai dinas terkait maupun koordinator perjalanan transportasi, perlu memperhatikan lebih lanjut terkait keamanan sopir maupun kondisi armada bus yang akan beroperasi. Penting sekali dilakukan pemantauan dan kroscek pada sopir dan kondisi busnya.
"Sopir harus kondisi sehat dan siap mengemudi. Begitu juga dengan busnya. Misal ada peraturan terkait kualitas rangka dan mesin bus seperti apa yang boleh beroperasi, karena itu juga berkaitan dengan keselamatan dan kepercayaan penumpang," tandasnya. (cr1/laz) Editor : Editor Content