Langkah pertama yang dilakukan adalah mengasingkan Adipati Martapura. Adik tirinya yang sempat menduduki takhta Mataram selama sehari itu sudah diasingkan ke luar ibu kota. Raden Mas (RM) Wuryah nama muda Martapura sudah berada di Gunungpring, Muntilan.
Dia dikirimkan ke pesantren itu dalam rangka mondok sekaligus belajar ngaji. Maklum usia Wuryah masih sangat muda. Masih dalam masa tumbuh kembang anak. Usianya baru 8 tahun. Perlu gemblengan berbagai ilmu. Khususnya mendalami agama.
Setelah membereskan Wuryah, Sultan Agung mulai berpikir melakukan reshuffle perdana menteri. Selama ini dijabat Adipati Mandaraka. Posisinya sebagai pepatih dalem relatif lama. Sudah tiga periode. Usianya sudah sepuh. Saatnya pensiun dan diganti.
Mandaraka menjadi perdana menteri sejak era Panembahan Senopati, eyangnya Sultan Agung. Dilanjutkan di masa ayahnya, Susuhunan Hanyakrawati. Sekarang masih berlanjut di saat Sultan Agung bertakhta.
Di samping faktor usia, dari sisi politis saat suksesi Mandaraka tidak berada di kubu Rangsang. Birokrat senior Mataram itu lebih condong ke Wuryah. Alasannya, Mandaraka berpegang pada paugeran.
Putra sulung yang lahir dari permaisuri utama lebih punya hak menggantikan kedudukan raja dibandingkan yang lainnya. Wuryah memenuhi syarat tersebut. Ditambah ada janji politik yang pernah diucapkan Hanyakrawati. Mandaraka memegang sikap itu.
Namun realita politiknya, Rangsang yang menjadi pemenang. Mandaraka memahami bila kemudian dirinya harus diganti. Dia tak kaget bila raja hendak menggeser kedudukannya. Sultan Agung naik takhta pada 1613. Tidak lama setelah pensiun, Mandaraka menderita sakit. Patih pertama Kerajaan Mataram itu wafat pada 1615. Makamnya ada di makam raja-raja Mataram Kotagede.
Meski berhasil menyingkirkan lawan-lawan politiknya, Sultan Agung masih dibayangi krisis legitimasi politik. Tak semua elite kerajaan mendukungnya. Bahkan sejumlah pendukung Wuryah curiga ada rekayasa politik di balik putusan mahkamah kerajaan (MK) yang memenangkan Rangsang. Ada kecurangan yang terstruktur, sistematis dan masif melibatkan sejumlah aktor. Ada skenario yang telah disiapkan.
Aktor politik yang dituding ikut bermain adalah Pangeran Purbaya. Paman Sultan Agung ini menjabat panglima Tentara Nasional Kerajaan Mataram (TNKM). Purbaya juga dikenal ahli di bidang telik sandi. Dia merangkap menjadi kepala Badan Intelejen Mataram (BIM).
Tokoh lain yang sering pasang badan untuk Sultan Agung adalah Tumenggung Singaranu. Sama seperti Purbaya, Singaranu punya jam terbang dalam operasi-operasi militer. Menghadapi kubu Wuryah, Singaranu tampil ke depan. Singaranu beberapa kali pindah jabatan. Posisinya pernah menjadi komandan sekretariat raja, beberapa kali menteri dan berbagai jabatan lainnya. Singaranu ditugaskan sesuai kepentingan ketika harus menghadapi lawan politik.
Karena reputasinya itu, Singaranu mendapatkan julukan pejabat serbabisa. Dia selalu berada di dekat Sultan Agung. Ke mana pun Sultan Agung pergi, di situ pasti ada Singaranu. Sebaliknya, Purbaya lebih banyak bermain di balik layar. Sesuai dengan jabatannya sebagai kepala BIM.
Kritik lain yang dilontarkan kubu Wuryah adalah dominasi pengaruh ibu suri alias Ratu Adi Dyah Banowati di pemerintahan. Berbagai serangan itu membuat Sultan Agung kedodoran. Serangan oposisi agak berkurang setelah tahun ketiga.
Momentumnya usai Patih Mandaraka wafat. Sultan Agung tidak menunjuk Tumenggung Mandurareja, anak Mandaraka, sebagai pengganti. Namun jabatan pepatih dalem dipercayakan kepada Singaranu. Sang pejabat serbabisa.
Sultan Agung juga meluncurkan proyek besar. Berupa agresi militer ke wilayah timur. Misalnya ke Wirasaba, Lasem, Pasuruan, Tuban, dan Surabaya. Selain itu, pada tahun kelima, Sultan Agung mulai memikirkan memindahkan istana.
Perlu membangun ibu kota baru. Alasannya, Kotagede sudah cukup padat. Sultan Agung ingin mengikis bayang-bayang ayah dan kakeknya. Dengan memindahkan ibu kota, Sultan Agung ingin membangun legitimasi yang utuh. Sekaligus mengalihkan perhatian agar masalah suksesi tak lagi dipersoalkan. (laz)
Editor : Editor Content