Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sunan Kudus Angkat Adipati Demak sebagai Sultan Pajang

Editor Content • Jumat, 24 Maret 2023 | 13:10 WIB
SIAP MENANG: KPH Purbodiningrat diapit Kustini Sri Purnomo dan Danang Maharsa di sela kunjungan di Kelompok Wanita Tani (KWT) Galeri Batik Jasmine Nologaten, Rabu (2/12).(ISTIMEWA)
SIAP MENANG: KPH Purbodiningrat diapit Kustini Sri Purnomo dan Danang Maharsa di sela kunjungan di Kelompok Wanita Tani (KWT) Galeri Batik Jasmine Nologaten, Rabu (2/12).(ISTIMEWA)
RADAR JOGJA - Ada pesan khusus disampaikan Sultan Hadiwijaya kepada putra mahkota Pangeran Benawa menjelang ajal tiba. Kala itu Benawa ingin mengambil tindakan terhadap Senopati. Diketahui, Senopati mengikuti rombongan Hadiwijaya dari belakang. Peristiwanya saat Sultan pulang dari Tembayat menuju Pajang setelah gagal menggempur Mataram.

Sikap Senopati itu di mata Hadiwijaya sebagai rasa hormat terhadap orang tua. Maklum antara Hadiwijaya dengan Senopati punya ikatan batin. Ayah Senopati, Ki Gede Pemanahan adalah sahabat Hadiwijaya semasa sama-sama menempuh dinas militer di Kerajaan Demak. Keduanya juga murid kesayangan Sunan Kalijaga.

Hadiwijaya mengangkat Senopati sebagai anak angkat sebagai pancingan agar dirinya segera punya putra laki-laki. Maklum saat itu keturunan Sultan Pajang dari permaisuri didominasi perempuan. Senopati di masa muda diberi nama Danang Sutawijaya.

Danang atau Danar berarti anak laki-laki yang punya sinar kuning. Suta maknanya anak. Lengkapnya putra dari Hadiwijaya. Tak lama setelah mengangkat Danang Sutawijaya, Sultan memiliki anak laki-laki dan diberi nama Benawa.

Setelah dewasa Sutawijaya diberi gelar Mas Ngabehi Loring Pasar. Kediaman orang tua Sutawijaya ada di daerah Manahan, Surakarta. Utara istana dan Pasar Pajang. Kata Manahan berasal dari Pemanahan. Petilasan atau bekas kediaman Ki Gede Pemanahan itu sampai sekarang dapat diketahui ada di sekitar Pasar Burung Depok, Manahan, Sala.

Setelah hijrah ke Mataram, Ki Gede Pemahanan berganti nama menjadi Ki Ageng Mataram. Ketika ayahnya wafat, Sutawijaya diangkat sebagai penggantinya. Dia menghadap ke istana Pajang didampingi paman sekaligus penasihat spiritualnya Ki Juru Mertani. Sultan Hadiwijaya mengangkatnya sebagai penguasa Mataram bergelar Senopati Ingalaga Sayidin Panatagama.
Sultan Hadiwijaya juga berpesan kepada Benawa agar patuh dengan Senopati sebagai saudara tua. Bila terjadi perselisihan, Benawa tidak akan dapat menjadi raja Pajang. Mendengar pesan itu, para pengiring yang membawa Hadiwijaya dari atas tandu mencucurkan air mata. Semua merasa sedih.

Kesedihan itu bertambah usai upacara pemakaman Hadiwijaya. Semua ahli waris berkumpul. Benawa maupun saudara-saudara perempuannya, termasuk para menantu Sultan seperti Adipati Demak dan Adipati Tuban. Senopati juga hadir disertai Ki Juru Mertani. Sebelum ke Istana Pajang, Senopati singgah ke Masjid Laweyan dan makam kakeknya Ki Ageng Nis.

Sunan Kudus, salah satu wali di masa Kerajaan Demak memimpin jalannya rapat suksesi. Dalam pembahasan itu, para bupati maupun pejabat teras Kasultanan Pajang mayoritas menginginkan Benawa sebagai calon pengganti. Kedudukan Benawa dinilai kuat karena putra mahkota. Lahir dari permaisuri raja.

Namun Sunan Kudus berpendapat lain. Adipati Demak yang menikah dengan kakak perempuan Benawa yang dipilih. Menantu Sultan Hadiwijaya itu dipandang lebih tepat sebagai Sultan Pajang yang baru. Adipati Demak ini merupakan putra Sultan Prawoto, raja Demak pengganti Sultan Trenggana.
Prawoto merupakan kakak ipar Hadiwijaya. Baik Sultan Prawoto maupun Sultan Hadiwijaya merupakan murid Sunan Kudus. Namun keduanya juga berguru kepada Sunan Kalijaga. Sikap mendua ini di mata Sunan Kudus sebagai pembangkangan.

Sunan Kudus pernah membahas soal ini dengan murid kesayangannya Adipati Jipang Arya Penangsang. “Apa hukumannya bagi murid yang tidak loyal?,” begitu pertanyaan Sunan Kudus. Penangsang kemudian menjawabnya, “Tidak ada kata lain selain melenyapkannya,” Sebab, sikap tidak loyal itu dinilai sebagai pengkhianatan secara spiritual maupun politik.

Usai mengangkat Adipati Demak, Sunan Kudus menyingkirkan Benawa dengan mengangkatkanya sebagai Adipati Jipang di Bojonegoro. Jipang pernah dipimpin adipati yang kesohor Arya Penangsang, bekas seteru ayah Benawa yang tewas ditikam tombal Kyai Pleret yang dibawa Senopati.

Pengangkatan sebagai Adipati Jipang tak pelak membuat hati Benawa dongkol. Tahu perasaan adiknya itu, Senopati ingin mengajukan interupsi. Tapi dicegah Ki Juru Mertani. Dia membisiki keponakannya itu dengan kata-kata kurang mengenakan.

“Orang lebih sibuk dengan pembagian warisan ketimbang selamatan bagi yang meninggal,” begitu kata Ki Juru Mertani. Suksesi di Pajang masih menyimpan bara. Benawa tidak bisa menerimanya. (laz) Editor : Editor Content
#Sultan Pajang #Adipati Demak #Sunan Kudus