Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pelukis Hanafi 'Pulang' ke Jogja Setelah 47 Tahun

Editor Content • Rabu, 15 Maret 2023 | 17:19 WIB
Raden Rizki Mulyawan Kartanegara Hayang Denada Kusuma atau yang lebih dikenal dengan Dik Doank berkunjung menghadiri Pameran Tunggal pelukis Hanafi bertajuk Af+ermasks yang digelar 13 Maret - 12 April 2023 di JNM Jogja.(WULAN YANURWATI/RADAR JOGJA)
Raden Rizki Mulyawan Kartanegara Hayang Denada Kusuma atau yang lebih dikenal dengan Dik Doank berkunjung menghadiri Pameran Tunggal pelukis Hanafi bertajuk Af+ermasks yang digelar 13 Maret - 12 April 2023 di JNM Jogja.(WULAN YANURWATI/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Seorang laki-laki berusia paruh baya terlihat sedang menikmati jajaran lukisan yang terpajang di lantai dua Gedung Jogja National Museum (JNM) Jogja. Sesekali, lelaki yang mengenakan outfit berwarna hitam itu meminta petugas pameran untuk mengabadikan gambar diri menggunakan ponselnya.

Bersarung hitam dikombinasikan baju lurik warna senada dengan ikat kepala hitam, lelaki itu terlihat menyatu dalam lukisan abstrak yang didominasi coretan warna hitam. Seakan dia bagian dari lukisan itu sendiri.

Lelaki itu diketahui bernama Raden Rizki Mulyawan Kartanegara Hayang Denada Kusuma atau yang lebih dikenal dengan Dik Doank. Seorang aktor, pembawa acara dan penyanyi Indonesia. Dia sengaja datang ke Jogja untuk menghadiri Pameran Tunggal pelukis Hanafi bertajuk Af+ermasks yang digelar 13 Maret - 12 April 2023 di JNM Jogja.

"(Datang ke Jogja, red) emang mau lihat karena Hanafi bukan pelukis biasa. Udah asam garam (berpengalaman, red) terus karyanya menarik dan saya suka komposisi dan pewarnaannya," ujarnya Rabu siang (13/3).

Af+ermasks merupakan buah pemikiran dan pengalaman pelukis kelahiran Purworejo Jawa Tengah itu selama pandemi Covid-19. Lebih dari 100 lukisan dipamerkan pada tiga lantai gedung JNM yang memiliki sejarah tersendiri bagi beberapa seniman.

Sebab kompleks JNM dulunya bernama Gampingan, pernah menjadi lokasi pendidikan seni rupa pertama di Indonesia yaitu Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI-1950) yang merupakan cikal bakal berdirinya Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Lokasi itu dulunya juga terdapat Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI). Hanafi aktif menjadi pelajar SSRI selama kurun 1976-1979.

Adik dari musikus Jazz Indonesia Beben Supendi Mulyana itu mengaku sudah lama mengagumi Hanafi. Dia juga pernah berkunjung ke rumahnya, dan bahkan membuat event bersama-sama. Karya Hanafi merepresentasikan kebebasan yang utuh.

"Hanafi kan tidak mengunci kita pada ruang pemikiran, orang boleh mengembara dengan imajinasinya. Jadi saya melihatnya keindahan itu yang nomor satu sih," ujarnya.

"Kalau masalah kedalaman di mana ruang karya itu jadi tercipta, aku rasa itu sentimentilnya seniman terhadap karyanya. Percuma kalau terlalu banyak ceritanya tapi karyanya gak bagus," lanjutnya.

Pameran Tunggal Hanafi memiliki tiga seri yaitu Af+ermasks sebagai rentetan buah pengalaman pelukis saat pandemi Covid-19. Seri Developmentalism/Wadas merupakan wujud empati Hanafi sebagai warga Purworejo kepada 'para sedulur' di Wadas. Kemudian seri Sarung Basah Ayah yang merupakan alusi Hanafi kepada sosok bapaknya, seorang veteran tentara, guru mengaji yang menjahit sarung untuk dijual.

Maka pada kesempatan itu, Dik Doank menyampaikan pesan khusus kepada maestro besar Hanafi. Agar terus mencatat rentetan peristiwa pada kehidupan yang sangat dinamis ini.

"Hanafi teruslah berkarya, teruslah menjadi wakil ruang, baik itu derita bahagia, nestapa, suka cita. Kau harus menjadi pencatatan peristiwa-peristiwa di dalam ruang yang selalu berubah," ujarnya.

Ihwal lukisan abstrak yang didominasi warna gelap dan kerap dianggap representasi kekelaman. Dik Doank justru memaknai lain, kegelapan dimaknai sebagai sebuah kesucian. Salah satunya dengan menganalogikan pada ibadah sholat Tahajud umat Islam yang dilakukan saat malam hari, saat kondisi gelap.

"Nah kalau lihatnya dengan kasat mata, tidak dengan mata qalbu, anda terkecoh pada peristiwa-peristiwa yang digambarkan dalam kanvas ini. Aku gembira melihat ini semua karena bagiku hari raya seorang hamba itu saat penderitaan itu datang padamu," jelasnya penuh makna.

Sementara itu, Kurator pameran Agung Hujatnikajennong mengatakan karya-karya Hanafi digarap di kawasan Depok pada tahun-tahun berat masa Pandemi Covid-19. Masker dalam pameran ini tidak hanya membicarakan pandemi saja. Menurutnya sudah menjadi tabiat artistik Hanafi untuk merefleksikan sesuatu lalu mengekspresikannya dengan cara yang tidak langsung.

"Pameran ini dipenuhi lukisan-lukisan yang menghindar dari asosiasi langsung dan seketika dengan perspektif objek sehari-hari. Yang hanya menonjolkan coretan garis-garis lengkung maupun lempeng yang bertumpuk, rumit, kusut, bidang atau blok warna yang saling tubruk dan menumpuk, sapuan kuas spontan dan bentangan kanvas yang luas," jelasnya. (lan/kus) Editor : Editor Content
#JNM #Dik Doank #Jogja