Dosen informatika Universitas Teknologi Digital Indonesia (UTDI) Jogjakarta Pius Dian Widi Anggoro mengatakan, tujuan kacamata menciptakan efek 3D. Namun ada syarat gambar yang bisa di-support dengan kacamata tersebut.
"Tepat, seharusnya gambar yang tampil di TV atau display juga ada dua warna (merah dan biru). Jadi kalau dilihat tanpa kacamata, gambarnya malah seperti tidak fokus atau kabur," jelasnya (3/3).
Gambar pada layar yang memuat banyak warna tidak membuat kacamata bekerja secara maksimal. Sebab tidak sinkron dan cocok. Dengan begitu, efek 3D tidak akan didapatkan.
"Nah kalo pakai kacamata akan terfilter dengan warna di kacamata, mata kiri memfilter biru, kanan memfilter merah. Setiap mata melihat gambar yang sedikit beda dan dipersepsikan gambarnya 3D," katanya.
Lebih lanjut Pius mengatakan, memang bahannya dari mika plastik. Menurutnya, apabila objeknya 2D maka cara 'memanipulasi' mata berbeda lagi. Dia menyebut salah satunya gambar 2D stereo yakni ada beda warna.
"Paling gampang dengan warna merah biru, tetapi yang canggih dengan efek polarisasi dalam lensa. Kacamata tetap bening tetapi dengan TV khusus," tandasnya.
Seorang warga Jogja, Arif, 37, mengaku pernah menggandrungi kacamata 3D jadul itu. Dia sempat berpikir hanya dibohongi pada saat itu. Namun sekarang dia baru paham cara kerja kacamata tersebut.
"Kukira dibohongi. Ternyata dulu saya pakai untuk melihat TV yang banyak warna. Makanya kok kayak biasa saja, gak ada efek 3D. Ternyata efek untuk layar tertentu aja," ujarnya sambil tertawa. (lan/laz) Editor : Editor Content