Kertas daluang adalah kertas yang dibuat dari kulit kayu. Pohon yang memiliki kualitas terbaik dalam pembuatan kertas daluang, salah satunya gelugu. Namun ada beberapa pohon lain yang juga bisa dimanfaatkan menjadi kertas daluang, seperti pohon bodhi dan sawo. Seperti yang sedang dikembangkan Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Jogjakarta Setya Amrih Prasaja.
Amrih belakangan mulai menggunakan kertas daluang dalam beberapa kegiatan dan penulisan. Ia mengaku pertama mencoba sekitar 2019, tapi sudah mengetahui kertas daluang sejak zaman ia kuliah, saya mengunjungi salah satu tempat pembuatan wayang dari kulit kayu.
“Di sana ternyata ada kertas daluang. Saat itu saya untuk turut mencoba dan meneliti lebih tentang kertas daluang,” terangnya kepada Radar Jogja, Kamis (23/2).
Amrih sendiri tergabung dalam sebuah komunitas aksara, sehingga perlu untuk menarasikan kembali terkait popularitas kertas daluang yang kian meredup. Secara tidak langsung juga sejalan dengan pekerjaannya sebagai kepala seksi bahasa dan sastra Dinas Kebudayaan Jogja.
Amrih juga membeberkan bersama komunitas aksara mengembangkan inovasi pembuatan kertas daluang dari kulit kayu pohon sawo. Hal ini dilakukan sebagai medium alternatif karena kertas daluang kualitas bagus dari gelugu memiliki harga yang cukup tinggi.
“Saya pernah beli ukuran A4 kertas daluang dari gelugu. Selembar harganya berkisar Rp 30 ribu sampai Rp 35 ribu. Memang tinggi harganya, karena kualitas kayunya juga bagus. Makanya saya coba mengembangkan bersama teman-teman untuk membuat dari kulit pohon sawo,” tambahnya.
Amrih menambahkan, kertas daluang memiliki keunggulan yang tidak dimiliki kertas pabrikan Eropa atau Mesir yang saat ini lazim digunakan. Penulisan menggunakan medium kertas daluang dinilai memiliki kesan yang lebih filosofis serta memiliki keunggulan secara historis. (cr1/laz) Editor : Editor Content