RADAR JOGJA – Setelah tiga tahun, upacara Labuhan Merapi kembali diperbolehkan diikuti masyarakat umum, kemarin (22/2). Upacara peringatan tinggalan dalem jumeneng atau bertahtanya Raja Keraton Jogja Sultan Hamengku Bawono (HB) Ka 10 ini dipimpin Juru Kunci Gunung Merapi Mas Wedana Suraksa Hargo Asihono. Diikuti iring-iringan abdi dalem keraton serta masyarakat sekitar. Kegiatan ini berlangsung di Kinahrejo, Cangkringan, Sleman.
Mas Wedana Suraksa Hargo Asihono, yang akrab disapa Mas Asih, ini mengungkapkan, prosesi labuhan masih sama dengan tahun kemarin. Bedanya, kali ini digelar terbuka dan lebih ramai diikuti masyarakat sekitar. Seiring meredanya pandemi Covid-19."Sebagaimana pesan Ngarso Dalem (Sultan HB Ka 10). diperizinkan, supaya beri waktu masyarakat mengikuti dan memeriahkan acara hajat dalem dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat," ungkap Mas Asih, di lokasi.
Prosesi labuhan dimulai pukul 07.00. Iring-iringan abdi dalem dengan membawa uba rampe (sesaji) berangkat dari petilasan Mbah Maridjan menuju kawasan Sri Manganti yang terletak di Pos 1 Merapi. Di lokasi inilah prosesi labuhan digelar.
Uba rampe yang dilabuh pun sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Antara lain, nyamping cangkring, nyamping kawung kemplang, semekan dhadung melati, dhestar daramuluk, peningset udaraga, kawung poleng ciut, semekan bangun tulak, semekan gadhung dan ses wewangen arta tindhih. "Makna labuhan Merapi memohon Tuhan Yang Maha Esa supaya kami selalu diberikan keamanan, dijauhkan dari segala mara bahaya," sambungnya.
Untuk prosesi labuhan tidak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ini karena tahun ini adalah labuhan kecil. Prosesi berbeda saat penyelenggaraan untuk labuhan tahun dal atau labuhan besar. “Sama dari tahun kemarin, kecuali tahun dal atau labuhan besar atau labuhan gede itu beda. Ini labuhan kecil,” ujarnya.
Kendati digelar terbuka, dia berpesan agar tetap menjaga kewaspadaan. Sebab Merapi ini statusnnya masih siaga tiga. Sehingga perlu meningkatkan kewaspadaan.
Sebelumnya serah terima uba rampe ini diserahkan kepada Juru Kunci Gunung Merapi di Kantor Kapanewon Cangkringan, Selasa (21/2). Selanjutnya, uba rampe tersebut dibawa ke Petilasan Mbah Maridjan untuk diinapkan semalam. Dan prosesi labuhan berlangsung esok harinya atau kemarin pagi.
Selain bagian adat dan tradisi, prosesi Labuhan Merapi selalu menarik perhatian pengunjung. Tak hanya warga sekitar tetapi juga dari luar kota. "Tak sekadar penasaran melihat prosesinya tapi juga penasaran menikmati alamnya. Juga nostalgia ketemu banyak relawan," ungkap salah seorang pengunjung Indra. (mel/pra) Editor : Editor Content