Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Baling-Baling Alat Pengolahan Rusak, Air Lindi TPA Piyungan Masuk Pemukiman

Editor News • Selasa, 21 Februari 2023 | 02:28 WIB
TAK OPTIMAL : Sekprov Pemprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji akui pengolahan sampah di TPA Piyungan belum optimal. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
TAK OPTIMAL : Sekprov Pemprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji akui pengolahan sampah di TPA Piyungan belum optimal. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Tingginya intensitas hujan berdampak pada limbah di TPA Piyungan. Terbaru adalah membludaknya kembali lindi atau air limbah sampah ke pemukiman. Cairan berbau tak sedap ini juga masuk ke persawahan milik warga.

Kondisi ini menimbulkan gelombang protes dari warga. Terutama atas tidak optimalnya penanganan limbah di TPA Piyungan. Sehingga berdampak pada masyarakat maupun lingkungan di sekitarnya. 

"Iya hujan lebat ini dari zona A dan B lindinya kencang banget ada yang luber ke sawah padahal belum waktunya dibuang di sawah karena belum terolah. Zona A dan B sudah menggunung," jelas Sekprov Pemprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji ditemui di Kompleks Kepatihan Pemprov DIJ, Senin (20/2).

Atas permasalahan ini, pihaknya telah berkoordinasi dengan Balai Prasarana Permukiman Wilayah DIJ. Kaitannya adalah tidak optimalnya alat pengolahan limbah di kawasan TPA Piyungan. Sehingga berdampak pada ekosistem lingkungan sekitarnya.

Disatu sisi, Aji juga mengakui bahwa pengolah limbah belumlah optimal. Terlebih volume sampah terus bertambah setiap harinya. Sementara untuk pengolahan belum memadai atau sebanding. 

"Masih ada persoalan beberapa alat enggak jalan, masih pemeliharaan balai yang bersangkutan agar segera dibetulkan," katanya.

Pihaknya juga berkoordinasi dengan PU ESDM. Berupa pemanfaatan teknologi dalam pengolahan air Lindi. Sementara untuk saat ini, teknologi yang ada belumlah optimal. 

Kendala utama adalah karakter air Lindi. Aji menuturkan limbah yang ada saat ini terlalu kental. Alhasil pengolahan dengan teknologi yang ada tidak mempan.

"Karena lindi terlalu kental saat diputar pakai baling-baling, ternyata baling-baling yang rusak. Solusinya diolah pakai bakteri untuk mengurai kekentalannya," ujarnya.

Warga, lanjutnya, juga mengeluhkan permasalahan lainnya. Berupa mulai penuhnya lahan transisi. Apabila tak diantisipasi, maka TPA Piyungan berpotensi membludak kembali.

Berdasarkan data sementara, Aji menuturkan ketinggian sampah di lahan transisi telah mencapai 4 meter. Sementara batal normal ketinggian adalah 10 meter. Berlaku untuk lahan transisi 1 dan 2.

"Lalu ada juga keluhan air bersih. Kami sudah merencanakan sumur bor untuk air bor, sudah alokasikan tapi belum dilaksanakan. Upayakan tahun ini atau 2024," katanya. (Dwi) Editor : Editor News
#Pengolahan sampah Piyungan #Lindu piyungan luber #air lindi Piyungan #TPA Piyungan