Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Digemari Anak Muda, ATM Makin Menyusut

Editor Content • Senin, 20 Februari 2023 | 16:30 WIB
Y Sri Susilo, Pengamat Ekonomi FBE UAJY. (DOK PRIBADI)
Y Sri Susilo, Pengamat Ekonomi FBE UAJY. (DOK PRIBADI)
QRIS sangat populer di kalangan masyarakat. Alat transaksi dengan menggunakan sistem barcode ini dinilai lebih simpel dan praktis. Tak perlu repot-repot rogoh kocek untuk mengeluarkan uang. Cukup scan, transaksi pun selesai.
Pengamat ekonomi Fakultas Bisnis Ekonomi (FBE) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) Y Sri Susilo mengungkapkan, penggunaan QRIS saat ini merupakan buah kemajuan teknologi yang berdampak pada sistem keuangan. Sistem keuangan menjadi lebih praktis dan efisian baik bagi konsumen dan penjual.
“Keunggulannya untuk menekan uang palsu beredar di masyarakat. Karena transaksi digital,” ujarnya saat dihubungi Radar Jogja kemarin (19/2). Di lain sisi, dapat digunakan untuk transakasi dengan nilai rupiahnya terkecil, tanpa perlu uang pengembalian.
Kendati begitu, penggunaan QRIS belum dapat diakses di semua wilayah. Terutama wilayah blankspot, susah sinyal. Sehingga transaksi jual beli masih mengandalkan manual.
Kendala lainnya, QRIS masih sulit diterapkan bagi pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM). Omzet yang kecil serta uang hasil jualan yang penggunaannya disegerakan untuk membeli bahan baku. Sehingga masih sulit mengoptimalkan penggunaan QRIS. Alhasil, UMKM justru kerepotan karena harus mengambil uang di bank.
“Sementara kalau pedagang kecil itu kan uang harus segera dibelanjakan. Kalau tiap hari harus bolak-balik mengambil uang kan sangat repot,” ujarnya. Apalagi belum semua costomer dan penjual siap dengan teknik pembayaran seperti ini. Transakai manual masih umum terjadi.
Lain halnya penggunaan QRIS cenderung menguntungkan bagi pelaku usaha menengah ke atas. Transaksi digital sangat diperlukan. Untuk memudahkan transaksi jarak jauh antara penjual dan pembeli. Disebutkan, meski pembayaran serba digital, dalam transaksi pembayaran tidak memakan dana besar. Yaitu, kurang dari satu persen.
Saking maraknya penggunaan dompet digital termasuk QRIS ini, menyebabkan perlahan keberadaan anjungan tunai mandiri (ATM) semakin menyusut. Dikatakan, perbankan ATM menggunakan alat mesin ATM dinilai lebih mahal dari QRIS. “Banyak bank mengurangi ATM-nya. Konsekuensi pembayaran digital,” tuturnya.
Menurutnya, transasksi QRIS banyak digunakan kalangan anak muda. Dia mencontohkan mahasiswanya hampir 99 persen menggunakan transaksi ini. Karena digital, maka penggunaanya harus berati-hati.
“Mestinya Bank Indonesia, bank-bank penerbit selalu bersinergi dan kolaboratif bersama pemerintah dalam meningkatkan fasilitas jaringan internet. Sehingga (QRIS) mudah diakses,” tandasnya. (mel/laz) Editor : Editor Content
#QRIS #barcode