Sekilas varietas Duku Nitikan memiliki bentuk seperti buah Kokosan. Baik dari bentuk daun pohon maupun buah. Namun saat diicipi, rasanya manis layaknya buah Duku.
“Dulu menanam ada 5 pohon dan rimbun. Ditanam sama bapak saya, yang depan ini usia pohonnya 70 tahun lebih kalau yang di belakang 100 tahun,” jelas salah satu warga Kampung Nitikan pemilik pohon Duku, Bun Yan Mashuri ditemui di kediamannya, Jumat (17/2).
Pria berusia 74 tahun ini menceritakan saat ini tersisa 17 pohon Duku di Kampung Nitikan. Sebelumnya ada lebih dari puluhan yang tersebar di seantero kampung. Seiring waktu berjalan, pohon Duku ditebang dan beralih jadi hunian warga.
Dia lalu menceritakan sejarah munculnya pohon Duku. Bukan dari Palembang tapi justru Kampung Karangkajen Kota Jogja. Seluruh bibit ditanam dari biji. Itulah mengapa rata-rata pohon berusia puluhan tahun.
“Di Karangkajen dulu juga banyak, terus orang sini (Kampung Nitikan) menanam jadi hasilnya mungkin dari Karangkajen itu. Karangkajen itu sekarang sudah banyak bangunan, ya pohonnya habis,” katanya.
Dari segi rasa, ternyata varietas ini lebih manis. Dari segi ukuran buah juga lebih besar. Ukuran dan rasa akan lebih maksimal saat buah diberongsong sejak kecil. Teknik ini juga untuk menghindari buah dimakan oleh kelelawar.
Dalam sekali panen, pohon yang produktif bisa mencapai 1,5 kuintal. Sementara rata-rata setiap pohon bisa menghasilkan 50 kilogram buah. Pohon akan mulai berbuah produktif saat memasuki usia 10 tahun keatas.
“Kalau Nitikan itu ngambilnya setelah matang betul karena diberongsong, jadi manis sekali. Panen setahun sekali. Kembang itu musim hujan pertama nanti 3 bulan baru seperti kayak gini. Kalau lebat, bisa 1,5 kuintal satu pohon karena baru produktif,” ujarnya.
Saat panen raya, buah Duku Nitikan kerap diborong penjual buah. Walau begitu hasil panen juga kerap dibagikan ke warga sekitar. Jika dijual, buah Duku dihargai Rp 20 Ribu/Kilogram.
Bun Yan menuturkan perawatan pohon tidak terlalu rumit. Dia hanya menggunakan daun kering sebagai pupuk. Lalu saat musim kemarau dibuatkan parit kecil di sekitar pohon. Tujuannya untuk menampung air.
“Terus tidak boleh kena pisau. Kemarin ada dicangkok itu, yang dicangkok hidup yang bawah kering. Kalau Duku tidak boleh dicangkok-cangkok. Jadi dari biji 10 tahun baru buah,” katanya.
Keberadaan pohon Duku turut mendukung program Kelurahan Sorosutan. Berupa Sorosutan sebagai paru-paru Kota Jogja. Ini karena kondisi lingkungannya yang masih asri dan hijau.
Beberapa bibit juga telah dikirimkan ke Balai Kota Jogja. Untuk kemudian ditanam di sekitar kompleks pemerintahan tersebut. Selain itu juga disebar di beberapa kampung di Kota Jogja.
“Pak Wali Kota (Penjabat Wali Kota Sumadi) minta supaya bibit nanti ditanam di Balai Kota. Lalu Kelurahan juga minta bibit. Kalau yang lain-lain mau mengembangkan juga lebih bagus tidak hanya di Nitikan tapi di sekitar Jogja yang punya lahan,” ujarnya. (Dwi) Editor : Editor News