RADAR JOGJA - Dalam sebulan terakhir, dua kasus bunuh diri (bundir) terjadi di wilayah hukum Kapanewon Turi, Sleman. Belum diketahui motif pelaku bunuh diri. Tetapi keduanya masih berstatus sebagai pelajar, SMA/SMK sederajat.
Kasus bunuh diri terjadi pada Jumat (27/1), terbaru Selasa (14/1). Kedua pelaku berjenis kelamin laki-laki, meregang nyawa dengan cara gantung diri. Dua kasus tersebut sama-sama terjadi di Kalurahan Bangunkerto, Turi. "Pada kasus pertama, belum diketahui penyebabnya. Kasus kedua ini kami masih dalami," ungkap Kanit Reskrim Polsek Turi Aiptu Susilo Widiatmanto ditemui di kantornya kemarin (15/2).
Kepala Kepolisian Sektor Turi AKP Arif Subakdo membeberkan, kejadian terbaru, pelaku bundir seorang pelajar kelas 12 SMK inisial NP, 19. Awal mula kejadian diketahui oleh seorang temannya. Saksi satu yang merupakan teman beda sekolah. Dia melihat dan mencurigai postingan status WhatsApp pelaku yang aneh. Dia menilai unggahan foto berupa seutas tali yang dikaitkan di atap itu tak wajar. Di bawahnya tertulis, “See you man teman.”
Khawatir terjadi hal buruk, tanpa basa-basi dia mengajak temannya yang juga teman bermain korban untuk mendatangi rumah pelaku. Awalnya mendatangi rumah pertama korban namun kosong. Selanjutnya ke rumah kedua yang berlokasi beda padukuhan dengan rumah pertama. "Saksi satu dan dua langsung masuk ke kamar korban, mendobrak pintu kamar korban hingga terbuka. Didapati korban dalam posisi duduk dan leher terikat tali warna biru, sudah tidak bernyawa," ujarnya. Kejadian tersebut sekitar pukul 13.00, sepulang sekolah.
Arif mengungkapkan saat ini pihaknya masih mendalami motif pelaku tersebut. Disebutkan belum ada dasar pemeriksaan interogasi terhadap saksi dan keluarga. "Karena keluarga masih berkabung," sebutnya.
Adanya kejadian tersebut, Polsek Turi berupaya meningkatkan kegiatan sosialisasi bimbingan masyarakat danmeningkatkan fungsi bhabinkamtibmas. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat terutama di wilayah Bangunkerto. Pentingnya pendekatan orangtua dengan anak. Memberikan perhatian dan waktu luang komunikasi dengan anak.
Menurutnya, ini menjadi evaluasi bersama meningkatkan sinergisitas antar pihak. Dan yang paling utama pengawasan anak, yakni orangtua.
Kanit Propam Polsek Turi Aiptu Andika Bhayangkara menambahkan, polsek tak henti-hentinya memberikan pemahaman kepada anggota untuk melakukan penyuluhan dan pendampingan ke sekolah-sekolah. Peningkatan iman menjadi kunci pondasi diri seseorang kuat. "Kami sudah memberikan masukan kepada dinas, kalau di kepolisian namanya Jumat Curhat. Kalau anak keimanan agamanya kuat, insyallah tidak akan terjadi seperti itu," ujarnya. "Kami juga ada gerakan ngawaruhke anak, menjalin kedekatan orangtua dengan anak," imbuhnya. (mel/pra) Editor : Editor Content