Karena bentuknya yang unik, tidak jarang food truck ikut meramaikan berbagai acara. Seperti konser, festival, dan semacamnya. Mereka biasa mengisi di bagian makanan dan minuman. Beberapa penyelenggara yang membutuhkan food truck dengan berbagai jenis makanan dan minuman inilah yang membuat YFT terbentuk.
Ketua YFT Amos Leonardo menyebut, komunitas ini menjadi wadah komunikasi agar memudahkan hubungan antara pelaku food truck dengan klien. Misalnya klien membutuhkan lima unit food truck dengan berbagai jenis dagangan. Maka pelaku food truck tidak perlu bingung lagi mencarinya.
YFT dibentuk pada 2017 dan anggotanya sendiri tak berjumlah tetap. Pernah mencapai 20 anggota, kini YFT fokus pada tujuh anggota inti. Namun, mereka tetap menjalin komunikasi dengan pengguna food truck di luar anggota inti tersebut. Komunitas ini mengusung tagline “Bisnis, Friendship, dan Charity”.
Yang paling utama adalah bisnis. Karena pada dasarnya, komunitas ini mewadahi para pelaku bisnis. “Kalau bisnis udah bener baru friendship, kalau bisnisnya baik pasti berteman. Sedangkan charity sifatnya berbagi, seperti saat pandemi ada program berbagi makanan sehat untuk tenaga kesehatan,” beber Amos saat ditemui Radar Jogja di Barsa City Food Truck kemarin (10/2).
Dalam komunitas ini, semua food truck memiliki jaminan. Seperti jaminan kebersihan, harga, dan fasilitas lainnya. Selain itu, unit truck yang ada juga bervariasi. Sehingga menarik pembeli untuk mencoba menu yang ditawarkan. "Masing-masing punya konsep. Kalau nggak menarik, pengunjung nggak mendekat. Display-nya sendiri juga beda-beda," ujarnya.
Amos menyebut jika berbisnis di food truck ini memang memiliki risiko yang minim dibandingkan harus membuat kafe atau resto. Sebab mereka bisa berjualan di mana saja hingga menjemput pembeli langsung. Berbeda dengan konsep resto yang menunggu pembeli.
Pada dasarnya, semua jenis food truck bisa menjadi anggota atau bekerja sama dengan YFT. Anggotanya bisa dari korporasi atau UMKM. Asalkan jenis kendaraannya roda empat ke atas.
Amos mengatakan, setiap food truck juga perlu memperhatikan unsur keselamatan. Salah satunya menyediakan alat pemadam api ringan di dalam kendaraan. Sebab, di dalam food truck ada dua hal yang berpotensi memicu kebakaran. Yakni bahan bakar mobil dan gas. Selain itu, barang dagangan yang berupa makanan juga bisa mengundang hewan pengerat yang masuk ke mobil. “Takutnya nanti gigit kabel dan bisa korslet. Jadi kami bukan cuma berbagi informasi event saja, tapi ada upaya edukasi, perizinan, dan lainnya,” jelas pria 39 tahun ini.
Untuk kelayakan food truck, pembuatan kendaraan dan seperangkatnya tidak boleh asal. Di samping unsur keselamatan, ruang untuk dagangan juga perlu diperhatikan proporsinya. “Kurang lebih Rp 20 juta untuk proses modifikasi. Tapi bisa berbeda kalau kebutuhannya juga berbeda,” ucapnya.
Amos menyebut, adanya Barsa City Food Truck adalah produk yang diharapkan dari awal sejak komunitas ini lahir. Adanya tempat mangkal bersama bagi komunitas pelaku food truck. Di satu sisi, YFT memiliki harapan besar untuk membuat suatu jambore nasional yang mengundang para pelaku food truck dari seluruh nusantara dan negara tetangga untuk berfestival bersama di Jogja. “Kami ada harapan untuk membuat festival food truck internasional di Jogja. Buat sejarah,” pungkasnya. (tyo/eno) Editor : Editor Content