Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengirimkan Nasi dengan Sepeda hingga Larut Malam

Editor Content • Sabtu, 11 Februari 2023 | 16:42 WIB
CIRI KHAS: Penampilan Wik Wik Ambyar saat menghibur pejalan kaki di jalur pedestrian Malioboro belum lama ini. Meski pengamen di Malioboro dia kerap diminta tampil di televisi nasional.(WINDA ATIKA IRA P/RADAR JOGJA)
CIRI KHAS: Penampilan Wik Wik Ambyar saat menghibur pejalan kaki di jalur pedestrian Malioboro belum lama ini. Meski pengamen di Malioboro dia kerap diminta tampil di televisi nasional.(WINDA ATIKA IRA P/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Pengalaman sebagai mahasiswa yang kelaparan karena uang kiriman telat, menjadi cambuk bagi Evan. Dia bermimpi pengalamanya dulu tak terjadi bagi mahasiswa atau warga lain di Jogja. Dengan keterbatasan dana dia pun berbagi nasi bungkus melalui Nasi Gratis Jogja Kota.

FAHMI FAHRIZA, JOGJA, Radar Jogja

Evan adalah sosok di balik akun Twitter @stefanaezer Nasi Gratis Jogja Kota. Yang selama beberapa bulan terakhir konsisten untuk membagikan nasi bungkus gratis kepada orang-orang yang membutuhkan di seputaran Jogjakarta.

Diakui Evan, program membagikan nasi bungkus yang dilakukannya ini baru dijalankan selama dua bulan terakhir. Dari mana inspirasinya? Dia mengaku, ide itu datang dari keresahan personal karena dirinya pernah mengalami kesusahan untuk makan. “Awalnya ya memang datang dari pengalaman saya sendiri, beberapa kali mengalami gak bisa makan,” ungkapnya pada Radar Jogja, Jumat (10/2).

Sebagai anak kos, saat itu dia memahami kondisi keuangan orang tuanya yang tidak bisa terus dimintai setiap saat. “Mau minta kiriman orang tua juga situasinya sedang tidak ideal,” ungkapnya.

Pengalaman pahitnya itu membuatnya bertekad supaya taka da lagi warga yang tinggal di Jogja mengalami hal yang sama. Dia tidak ingin ada warga Jogja maupun pendatang yang tinggal di Jogja, ada yang mengeluh kelaparan. Karena itu dia berinisiatif membuat gerakan Nasi Gratis Jogja Kota. Untuk sekadar memberi nasi bungkus kepada warga yang membutuhkan.

Untuk mewujudkannya pun dia melakukan secara mandiri. Tak mengandalkan orang lain. Apalagi pemerintah. “Jadi ya sekarang ketika untungnya saya sudah bekerja, sedikit saya menyisihkan sebagian gaji untuk membelikan nasi kepada orang yang benar-benar membutuhkan,” tuturnya.

Evan mengakomodir kebutuhan nasi bungkus tersebut melalui gaji pribadinya dan membagikannya seorang diri. Namun beberapa saat terakhir mulai ada orang-orang yang berdonasi serta menitipkan uang untuk dibelikan nasi bungkus.

Ketika ditanya apakah gajinya cukup untuk membelikan nasi bungkus untuk orang lain? Evan menjawab, “Ya cukup untuk bayar kosan dan makan saya, ketika ada sisa ya saya coba belikan nasi bungkus itu, tapi belakangan sudah mulai ada yang berdonasi dan saya bisa membelikan nasi lebih banyak,” jelas pemuda 26 tahun tersebut.

Nasi yang dibagikan Evan umumnya adalah nasi telur dengan sayur, hal ini dirasa cukup layak dan secara harga masih mampu diakomodir oleh Evan.Untuk teknisnya sendiri, Evan membagikan nomor telepon pribadinya di Twitter agar orang-orang yang benar membutuhkan bisa langsung menghubunginya. Dia menyebut rerata yang meghubunginya adalah mahasiswa. Kebanyakan beralasan karena belum mendapat kirimna uang dari orang tuanya. “Jadi teringat saya dulu,” kenanngnya sambil tersenyum.

Meski memberikan nasi bungkus secara gratis, dia tetap memperhatikan kualitas. Di antaranya nasi yang akan dibagikan sama dengan nasi yang dikonsumsinya sehari-hari. “Nasi yang saya bagikan itu umumnya ya nasi yang juga saya makan, biasanya nasi dengan sayur dan lauk telur, secara harga dan menu mungkin tidak mahal, tapi ya semoga cukup dan layak,” ujarnya.
Jumlahnya beda-beda tergantung pesan yang masuk tiap hari. Evan menyebut, kadang bisa 10 – 20 bungkus. “Terbanyak saya pernah mengirimkan 48 bungkus nasi satu hari,” tuturnya.

Dalam mengirimkan nasi bungkus setiap hari Evan menggunakan sepeda gowes untuk transportasinya. Hal ini diakui karena memang dirinya tidak memiliki sepeda motor. Untuk waktunya pun tak menentu. Biasanya dia mulai berkeliling pukul 14.00. Bahkan sampai dinihari. “Ya sampai saya ngantuk, mungkin pukul 01.00 atau 02.00 dinihari,” ungkapnya.

Lokasi pengirimannya juga tak menentu, kadang di Bantul, Sleman, atau di sekitar Kota Jogja. “Sebisa mungkin tetap saya tempuh sendiri dengan sepeda, tapi untuk hari-hari ini untungnya ada saudara yang meminjamkan saya motornya, jadi saya bisa keliling lebih jauh” bebernya.(pra)

  Editor : Editor Content
#Filantropi