Ketua Umum PBTY XVIII Sugiharto Hanjin menuturkan PBTY adalah wujud indahnya keberagaman Jogjakarta. Berupa tampilnya kesenian Tiongkok dan Nusantara. Termasuk tampilnya kelompok naga dan barongsai.
"Akulturasi sangat terjadi di sini karena pemain naga dan barongsai bukan dari keturunan Tionghoa lagi, sudah budaya lokal," jelasnya ditemui di Kawasan Titik Nol Kilometer Jogjakarta, Sabtu malam (4/2).
Hanjin menceritakan saat ini penggawa kelompok naga dan barongsai tak hanya warga keturunan Tiongkok. Adapula warga lokal yang bergabung. Bahkan beberapa kelompok juga didirikan langsung oleh warga Jogjakarta.
"Penduduknya lokal dan bukan Tionghoa yang main, dan ini bukti sudah budaya lokal," katanya.
Malioboro Imlek Carnival menghadirkan beragam kelompok seni. Untuk kelompok naga terdiri dari Naga Hoo Hap Hwee, Putera Mataram, Panbers, Mutiara Naga, Naga Winongo. Adapula Naga Selatan, Naga Jati Wonosari, Elang Emas Yogyakarta, Isakuiki dan Naga Api Jogjakarta.
Lalu untuk kelompok kesenian lokal yang eksis di kawasan Jogjakarta. Sebut saja Topeng Ireng Sleman, Bregoro Suryoatmojo dan Reyog Manggolo Mudho Pawargo. Masih ada kelompok seni dari sekolah dan Drumband Gita Dirgantara AAU Jogjakarta.
"Pesertanya cukup banyak, drumband lalu tarian dari paguyuban Tionghoa, kesenian tradisional. Tidak kalah menarik ada 9 naga Barongsai," ujarnya.
Malioboro Imlek Carnival juga menjadi momen bangkitnya wisata di Jogjakarta. Terbukti dengan membludaknya pengunjung di kawasan Malioboro. Bahkan sudah mulai terlihat sejak sore hari.
"Sempat 2 tahun libur karena ada pandemi sehingga antusiasme malam ini luar biasa. Mulai jam 4 tadi sudah memenuhi sepanjang Malioboro," katanya. (Dwi) Editor : Editor News