Seorang budayawan Didik Nini Thowok menegaskan, budaya dan tradisi yang dibawa oleh nenek moyang, sejatinya tidak boleh ditinggalkan. Apalagi tergeser dengan perkembangan zaman. Seperti kebudayaan lain pada umumnya, dia tidak menampik, eksistensi seni dan budaya Tionghoa perlahan mengendur.
Dia menceritakan, pada zaman Orde Baru, kegiatan yang berbau etnis Tionghoa, memang dilarang keras. Masyarakat dan peranakan Tionghoa cenderung takut untuk berekspresi. Lalu, pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, barulah mereka diberi kebebasan mengekspresikan budayanya.
Sekarang, harusnya mereka bisa lebih meningkatkan budaya dan tradisi Tionghoa. Terutama generasi muda. Terlebih, Indonesia memang memiliki keragaman tradisi dan budaya. Menurutnya, wajar saja jika mereka juga belajar kebudayaan lain.
Dengan catatan, mereka tidak meninggalkan budaya yang dibawa oleh leluhurnya. "Saya keturunan Tionghoa dan tinggal di Indonesia. Tapi, saya tetap belajar budaya sana. Paling tidak, saya tahu bagaimana tradisinya. Karena itu tradisi dari nenek moyang," ujarnya saat dihubungi kemarin (20/1).
Dia menilai, mulai mengendurnya budaya dan tradisi Tionghoa lantaran kurangnya edukasi. Kemudian, budaya acapkali dibenturkan dengan agama. Kedua hal itu merupakan contoh faktor yang menyebabkan generasi muda tidak dekat dengan budaya.
Dengan begitu, lanjut Didik, upaya pelestarian harus dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan. Langkah yang dilakukan misalnya dengan mengenalkan tradisi Ceng Beng atau berziarah kubur. Tradisi itu juga selalu dilakukan oleh Didik.
Kemudian, dengan melakukan edukasi tentang seni dan budaya, serta menampilkannya pada ajang-ajang tertentu. Seperti saat Hari Raya Imlek, festival Cap Go Meh, festival Mooncake, dan lain-lain.
Dia mengatakan, seiring dengan kebebasan yang diberikan pemerintah, kebudayaan Tionghoa pada era modern ini tidak begitu memiliki tantangan besar. Semuanya tergantung pada niat yang dimiliki untuk melestarikan dan mengekspresikannya.
Di satu sisi, dia melihat, masih banyak generasi muda yang mau dan mampu melestarikan budaya Tionghoa. "Bagus kalau itu. Pesan saya, jangan lupa kita hidup di Indonesia. Jangan kemudian tidak belajar budaya Indonesia," bebernya.
Didik menyebut, peran keluarga penting dalam melestarikan budaya dan tradisi, khususnya Tionghoa. Termasuk menanamkan budi pekerti kepada anak-anak. Agar mereka mengenal leluhurnya.
Dia berharap, Imlek tahun ini akan semakin memasyarakat. Sehingga tidak ada lagi sekat-sekat antaretnis. "Akulturasi tetap dijaga, disosialisasikan sehingga menjadi kekayaan bersama milik Indonesia," harapnya. (aya/eno) Editor : Editor Content