Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Jogja Zenni menyebut bank sampah memiliki peranan yang signifikan penumpukan sampah di TPA Piyungan. Terbukti pengolahan saat ini lebih optimal. Mencapai 17 tom/hari sejak awal 2023.
“Angka ini bukan tidak mungkin untuk ditingkatkan. Di awal 2023 saja sudah mencapai 17 ton per hari lewat bank sampah,” jelas Zenni di Kompleks Balai Kota Jogja, Senin (16/1).
Walau begitu pihaknya bersama pemangku wilayah terus melakukan optimalisasi bank sampah. Kini Kota Jogja tercatat memiliki 575 unit bank sampah berbasis RW. Seluruhnya tersebar di 45 kelurahan.
Jumlah ini belumlah total keseluruhan RW di Kota Jogja. Berdasarkan data ada 661 RW, namun belum seluruhnya memiliki bank sampah. Nasabah juga belum maksimal karena rata-rata hanya 26 orang per bank sampah.
“Ini berarti ada separoh rumah tangga yang belum masuk keanggotaan bank sampah. Harapannya setiap RW bisa punya bank sampah dan setiap rumah tangga bisa menjadi anggota bank sampah,” katanya.
Direktur Bank Sampah Delima RW 05 Kelurahan Mantrijeron Ari Wahyu Dewanti mengungkapkan dari total 120 KK, baru sekitar 60 KK yang menjadi anggota bank sampah. Sementara anggota aktif hanya sebanyak 43 KK sejak kelompok terbentuk pada 2018.
“Perputaran uang sudah mencapai Rp 50 juta sejak 2018. Jumlah penimbangan mencapai 100 kg sampai 200 kg per bulan,” ujar Ari.
Untuk meningkatkan jumlah nasabah, dia gencar melakukan sosialisasi. Sasarannya adalah forum PKK, dasa wisma, maupun pertemuan RW. Fokusnya adalah program pemilahan sampah dalam zero sampah anorganik.
“Ada ibu-ibu yang memilah di sana. Ada 9 orang sudah terkoordinir. Mulai dari pencatatan, penimbangan, pemilahan, dan pengangkutan,” katanya. (isa/dwi) Editor : Editor News