Produksi kue berbahan baku tepung ketan dan gula ini hanya sekali dalam setahun. Tepatnya menjelang tahun baru Tiongkok atau Imlek. Inilah yang membuat kue keranjang Lampion milik Sulistyowati menjadi buruan para pembelinya.
“Kalau di Indonesia kayak lebaran itu, dibagikan ke saudara atau orang dekat. Masing-masing satu, momentum saat Imlek. Juga untuk sembahyangan ke leluhur lah,” jelasnya ditemui di rumah produksinya di Jalan Tukangan Nomor 43, Danurejan, Kota Jogja, Sabtu (14/1).
Tahun ini dia merasakan kebangkitan setelah pandemi Covid-19 mulai mereda. Meski belum pulih sepenuhnya, namun pesanan sudah menumpuk sejak awal produksi. Kue Keranjang Lampion memulai produksi pada 5 Januari 2023.
Saat kasus Covid-19 tinggi dia sempat berhenti membuat kue yang juga bernama Nian Go ini. Sepinya pembeli dan juga potensi terpapar virus, membuat Sulistyowati dan keluarganya untuk istirahat terlebih dahulu.
“Pesanan sudah masuk sebelum 5 Januari kemarin. Ada yang pesen dari Jogjakarta dan luar Jogjakarta. Rata-rata memang langganan di sini," katanya.
Para pelanggan, lanjutnya, sudah memesan jauh hari sebelum hari pengambilan. Untuk pesanan mayoritas membeli dalam jumlah banyak. Walau begitu tetap ada pembeli harian dengan jumlah yang lebih sedikit.
Cara membeli ini sudah menjadi tradisi sejak dulu. Sulistyowati menceritakan ada yang membeli 30 hingga 50 kue keranjang. Untuk kemudian dibagikan kepada saudara hingga kepada pegawai.
“Sudah pesan jauh hari, tanggal sekian tinggal ambil. Jualnya kiloan, ada yang isi 1 tapi besar lalu 5 tapi kecil. Biasanya ramainya seminggu sebelum Imlek,” ujarnya.
Berbicara tentang produksi, membuat kue keranjang haruslah sabar. Seluruh adonan dimasak dengan durasi waktu yang sangat lama. Tungku pemasakan tidak dibuka karena akan merusak tekstur kue keranjang.
Sulistyowati menuturkan butuh waktu 3 hari, Mulai dari memasak, mendinginkan hingga akhirnya kue keranjang bisa dijual. Cara ini sudah diterapkan selama berjualan. Terlebih dia dan adiknya Sianiwati, 74, adalah generasi kedua pewaris Kue Keranjang Lampion.
“Resep masih asli dari dulu tapi sekarang apa-apa mahal, semua susah sekarang. Kalau bahan baku ambil dari lokal karena lebih berkualitas. Untuk menjaga rasa juga," katanya.
Bukan tanpa alasan Sulistyowati memilih bahan baku lokal. Dia dan adiknya ingin menjaga kualitas dan cita rasa Kue Keranjang Lampion. Disatu sisi dia mengakui bahwa bahan baku impor memang lebih murah. Namun tidak menjamin rasa.
Baginya kue keranjang adalah kue yang spesial. Bukan sekadar kuliner khas menjelang Imlek. Namun sebuah persembahan dalam perayaan Tahun Baru Tiongkok ini.
"Kalau saya sebelum buat selalu sembahyang dulu. Jaga kualitas, ini kan setahun sekali dan untuk sembahyang juga, jadi kualitas penting," ujarnya.(Dwi) Editor : Editor News