Salah satu pedagang yang terlihat membongkari lapaknya adalah Rukamto. Dia mengaku pasrah atas kebijakan tersebut. Disatu sisi juga belum ada solusi dari pemerintah atas perintah pembongkaran lapak.
"Katanya pindah ke Pasar Klitikan tapi belum jelas. Rencananya saya stop jualan dulu, kemas (berkemas-kemas) dulu," jelasnya ditemui saat membongkar lapak miliknya, Kamis (12/1).
Dari informasi yang dia dapatkan, para pedagang nantinya akan menempati lapak di Pasar Klitikan Kota Jogja. Hanya saja hingga saat ini belum ada realisasi atau pertemuan. Sehingga dia belum mengetahui nasib pasca pembongkaran.
Disatu sisi, Rukamto juga menuturkan bahwa lapak tersebut masih terpakai. Beberapa pedagang lama Pasar Klitikan masih bertahan. Sehingga dia pesimis bisa berjualan dalam waktu dekat.
"Katanya pindah Pasar Klitikan blok D paling timur, tapi itu masih dipakai pemilik sana, kata Dinas Pasar mau ada eksekusi disana," katanya.
Pria yang telah berjualan di Jalan Perwakilan sejak 1997 menceritakan sejarah penyewaan lahan. Dia mengakui bahwa pada medio 2000 sempat ada kejadian serupa. Hanya saja kala itu sempat dinaungi oleh almarhum KGPH Hadiwinoto dan GBPH Prabukusumo.
Dia juga mengaku masih menyewa lapak hingga 2025. Acuannya adalah surat kekancingan yang diklaim olehnya resmi. Disebutkan bahwa masa menyewa lahan Sultan Ground berakhir pada 2025.
"Pada 19 Desember ada pengumuman tanggal 31 (31 Desember 2022) harus eksekusi pengosongan. Kita mengelak karena diakhir tahun 2022 menyambut 2023 mbok ya setelah itu kita kemas," ujarnya.
Pasca mereda, muncul kembali pengumuman pengosongan lahan. Diawali pada perintah pengosongan pada 1 Januari 2023. Namun lagi-lagi para pedagang menolak anjuran tersebut.
"Kami mengelak karena masih ada dagangan, maunya kami habiskan dagangan saja lah, lalu diundang dan dikasih waktu sampai 14 15 (Januari 2023) harus kosong," katanya.
Pasca perintah tersebut, Rukamto memilih untuk tidak berjualan. Ditambah lagi ada pemasangan pagar besi di sepanjang lapak Jalan Perwakilan. Alhasil para pedagang tidak membuka lapaknya untuk berjualan.
Rukamto mengaku memiliki 4 toko di kawasan tersebut. Untuk karyawan, total memiliki 22 orang. Untuk saat ini seluruhnya terpaksa libur karena memang tidak bisa berjualan.
"Hampir 10 hari tidak berjualan. Kita maunya audensi dengan PJ (Penjabat Wali Kota Jogja Sumadi) tapi tidak ditanggapi," ujarnya.
Ditanya tentang nominal kerugian, Rukamto tidak menjabarkan secara detil. Hanya saja dia menuturkan biaya sewa satu kios selama setahun adalah Rp 120 Juta. Dia sempat mendapatkan diskon Rp 25 Juta saat tahun awal pandemi Covid-19.
"Pingin saya masih sampai 2025. Secara finansial habis (rugi) Rp 40 juta sampai Rp 55 juta tanpa sewa toko," katanya. (Dwi) Editor : Editor News