Berbekal ilmu teknik yang dimiliki, Danang merakit sendiri mesin pencetak batakonya. Inovasi ini dia ciptakan sebagai upaya mengurangi timbunan sampah. Utamanya di lingkungan rumahnya sendiri, yakni di Kelurahan Bumijo.
“Kita melihat ada kegalauan dari pemerintah untuk urusan sampah. Masyarakat harus memilah sampah dan di tempat akhir yang diterima hanya sampah organik saja. Sampah harus selesai di tingkat kampung. Maka dari itu, kami mencoba merintis dan mengedukasi masyarakat bahwa plastik bisa kita olah salah satunya konblok atau batako sebagai material,” jelas Danang, Senin (9/1).
Danang menyebut sampah-sampah anorganik residu dia dapatkan dari bank sampah di Kelurahan Bumijo. Tak ada spesifikasi khusus untuk sampah. Selama dapat dilebur maka dapat menjadi bahan pembuat batako.
Batako dicetak menjadi 3 ukuran, tergantung banyak sedikitnya sampah yang menjadi bahan. Ada ukuran kecil 10x20 centimeter, sedang 30x15 centimeter, dan ukuran jumbo 45x45 centimeter.
Sebelum diolah, sampah plastik harus dalam keadaan kering lalu dipanaskan bersama oli hingga meleleh. Lelehan plastik dimasukkan ke dalam cetakan batako dan didiamkan hingga padat. Setelah itu batako diangkat dan direndam sebentar ke dalam air dan batako siap untuk digunakan.
"Seluruh pembuatan batako berbahan plastik kami lakukan di workshop yang diberi nama Kebon Kulon. Tepatnya di Ngaglik, Sinduadi, Mlati, Sleman," katanya.
Dalam sekali produksi Danang mampu menghasilkan 150 batako. Meski terbuat dari plastik dia memastikan kualitasnya tak kalah dengan batako pada umumnya. Bahkan, batako dari plastik cenderung lebih kuat dan keras. Tampilan juga lebih halus, tidak berpori, dan lebih ringan.
Hanya saja, batako berbahan plastik tak kuat dengan suhu yang sangat panas. Plastik akan melebur pada suhu 150 derajat celcius. Danang mengaku selama ini dia menggunakan dana pribadi. Belum ada jajaran pemerintah yang merangkulnya hingga saat ini.
“Kalau sudah jadi produk, kemudian bisa jadi program padat karya masyarakat. Lalu diprioritaskan, dimanfaatkan pemerintah untuk pembangunan. Jadi jerih payah kami bisa dihargai dengan dibeli produk kami,” ujar Danang.
Hingga saat ini batako plastik ciptaannya belum dikomersialkan. Ini karena Danang berfokus pada jasa untuk mengurangi timbunan sampah. Meski demikian, dia berharap ke depan semakin banyak lagi masyarakat yang teredukasi. Terutama tentang pengolahan sampah anorganik.
“Iya (komersil) tapi sistem komersialnya lebih ke jasa memusnahkan sampah plastik, belum target menjual hasil produk. Jadi, kesimpulanya jasa mengubah tumpukan sampah plastik jadi tumpukan batako yang volume tumpukanya berkurang tinggal 15 persen,” katanya. (isa/dwi) Editor : Editor News