Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tangani Sampah dengan Model Circular Economy

Editor Content • Senin, 9 Januari 2023 | 14:40 WIB
PILAH DULU: Petugas kebersihan melakukan pemilihan terhadap sampah yang berhasil dikumpulkannya.(SITI FATIMAH/RADAR JOGJA)
PILAH DULU: Petugas kebersihan melakukan pemilihan terhadap sampah yang berhasil dikumpulkannya.(SITI FATIMAH/RADAR JOGJA)
 

RADAR JOGJA - Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIJ mencatat, jumlah sampah yang tidak terkelola ada sebanyak 41,06 persen per tahun. Model circular economy dinilai dapat hadir sebagai upaya solusi permasalahan sampah. Mengubah pola pikir masyarakat dengan menanamkan pemahaman, sampah itu bermanfaat melalui pendekatan ekonomi.

Kepala DLHK DIJ Kuncoro Cahyo Aji menyebut, permasalahan sampah saat ini perlu inovasi yang berkelanjutan. Salah satunya dengan kolaborasi pentahelix yang mengedepankan lima prinsip yaitu rethink, reduce, reuse, recycle, dan recovery.

“Dalam circular economy persoalan yang mendasar adalah masih adanya kesenjangan indeks inklusi dan literasi. Sehingga dalam membangun ekosistem industri persampahan, perlu ada kolaborasi secara pentahelix untuk memberikan peluang dalam pembangunan circular economy dalam pengelolaan sampah,” jelasnya mengutip pernyataan Sekprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji.

Sementara merujuk data DLHK DIJ, komposisi sampah terbanyak bersumber dari rumah tangga. Komposisi jenis sampah terbanyak adalah sampah sisa makanan yaitu 58,69 persen. Menurut Kuncoro, data tersebut dapat jadi acuan dalam circular economy. Sehingga circular economy bisa dijalankan sesuai dengan jenis komposisi sampah. Oleh karena itu diperlukan pengelolaan sampah dari hulu atau pilah sampah mulai dari sedekat mungkin dari sumbernya. “Sampah harus dipilah sedekat mungkin dari sumbernya yaitu di rumah tangga masing-masing,” ungkapnya.

Circular economy kemudian harus dibarengi dengan mindfulness eating. Ia berharap masyarakat memiliki kecerdasan terhadap apa yang akan dikonsumsi. Sehingga harapannya apabila sudah melakukan mindfulness eating, masyarakat mulai memiliki mindset mengurangi sampah. “Karena sampah sisa makanan dan sampah-sampah ikutannya juga akan berkurang,” urainya.

Selain rumah tangga, peran bank sampah dan TPS3R juga dinilai Kuncoro penting. Lantaran jadi salah satu bagian ekosistem circular economy. Dalam hal ini bank sampah dan TPS3R selaku penerima dan pembeli sampah dari masyarakat. Mereka bertugas mengelompokkan sampah sesuai dengan jenisnya.

Selain itu, TPS3R juga memiliki pengaruh dalam recycle atau mendaur ulang sampah dari masyarakat. Dengan adanya peran dari masyarakat untuk mengelola sampah, maka akan memperkuat proses terjadinya circular economy pengelolaan sampah. Konsep pengelolaan sampah pun disebut dapat selesai di tingkat kelurahan. Maka perlu pengelolaan yang terintegrasi antara sampah yang sudah dipilah oleh masyarakat, bank sampah dan TPS3R.

“Harapannya dengan pengelolaan terintegrasi antara bank sampah dan TPS3R, maka pertumbuhan ekonomi juga akan merata di tingkat kelurahan,” ucapnya.

Kepala Divisi Unit Usaha Syariah PT Pegadaian Beni Martina Maulan menambahkan, circular economy harus lebih menekankan pada kelestarian lingkungan. Dalam hal ini adalah pengurangan sampah. Sehingga pertumbuhan ekonomi melalui circular economy tidak diartikan sebagai perlombaan menghasilkan sampah. Namun jadi salah satu pengelolaan sampah, di samping peluang mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui circular economy pengelolaan sampah.

Circular economy itu diharapkan mampu membangun paradigma di masyarakat bahwa sampah memiliki value atau nilai ekonomi setelah melalui proses pilah sampah. Dalam hal ini, pihak pegadaian juga telah mempersiapkan tabungan hijau guna mendukung circular economy dalam pengelolaan sampah. “Harapannya ini akan berkembang, sehingga impactnya eco-finance-nya akan terbentuk,” tandasnya. (fat/laz) Editor : Editor Content
#DLHK