Pemilik salah satu sumur, Inti Retnowati mengatakan, sumur yang ada di halaman rumahnya, awalnya adalah bantuan dari pemerintah. Lebih dari 20 tahun yang lalu, pemerintah mencari tiga rumah yang memiliki tanah luas untuk dibagun sumur umum. “Di sini kebetulan tanahnya luas, jadi dipakai untuk bikin sumur,” katanya saat ditemui Radar Jogja, Jumat (6/1).
Meski dulu dibangun pemerintah, Inti mengatakan kalau saat ini sumur tersebut sudah dikelola keluarganya. Seingat dia, jika selama lima tahun sumur itu sudah bermanfaat bagi warga, maka selanjutnya keputusan terserah pemilik tanah. “Kebetulan ini juga nggak diapa-apain, jadi ya dibiarin saja untuk dipakai,” tambahnya.
Sumur yang ada di halaman rumahnya tidak hanya digunakan oleh keluarganya, namun juga oleh tetangga sekitar. Selain itu, juga digunakan oleh pedagang kaki lima di sekitar kampungnya. “Banyak yang pakai. Tetangga yang jualan angkringan kalau ambil air untuk bikin minum juga dari sini. Saya juga demikian, meski saya juga pakai PAM,” ujarnya.
Selain itu, air di sumur tersebut juga digunakan oleh warga ketika sedang nyekar ke makam. Sebab, tepat di sebelah rumah Inti adalah makam warga. “Dari kuburan yang nyekar, cuci tangannya di sini. Kalau bikin kijing, pembuatannya kan butuh air, ambilnya dari sini. Ya sini terbuka saja,” ucap perempuan 62 tahun itu.
Menurutnya, kelebihan dari penggunaan sumur timba adalah gratis dan anti-listrik padam. “Kalau mati listrik ke sumur, minusnya kalau musim panas, dulu sumurnya ikut kering,” ungkapnya. Namun, dia menambahkan, saat ini sudah ada peresapan di mana-mana. Sehingga sumur miliknya sudah tak pernah kekeringan lagi. “Lumayan jadi agak mendingan,” sambungnya.
Selain itu, dia mengaku jika air dari PAM berbau kaporit. Jadi harus dilarutkan terlebih dahulu sebelum digunakan. “Kalau dari sumur ini kan bisa langsung dipakai,” jelasnya. Inti menyebut, sumur miliknya dulu rutin diperiksa airnya oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Jogja. Namun, kini sudah lama tidak pernah diperiksa lagi. (tyo/laz) Editor : Editor Content