Kini usaha turun temurun dari kakeknya itu dikelola oleh ayah Rahman yakni Sugeng Triyono. Sebagai generasi ketiga, Rahman juga berperan dalam pengelolaan usaha kerajinan gamelan ini.
Baginya, tak banyak yang dia tangani. Sebatas urusan pembukuan, pengadaan stok bahan, dan menemui klien atau tamu. Meski begitu, Rahman merasa usaha kerajinan gamelan Hadi Seno jauh lebih tertata jika dibanding saat belum disentuh olehnya.
“Kalau sama bapak itu tidak didata. Kalau saya tertulis semua. Untuk sosial media seperti Instagram, facebook, itu juga saya adminnya,” jelas Rahman saat ditemui di kediamannya di Jalan Letjen Suprapto, Ngampilan, Kota Jogja, Kamis (5/1).
Rahman telah mengenal dunia gamelan sejak kecil. Setiap hari dia melihat sang ayah membuat gamelan untuk memenuhi pesanan. Sejak saat itu, dia berkeinginan untuk mengikuti jejak sang ayah.
Kecintaannya akan gamelan tumbuh bersama dirinya tanpa paksaan. Menginjak dewasa, Rahman diberi keleluasaan oleh orangtuanya untuk memutuskan masa depannya sendiri.
Memasuki jenjang pendidikan SMA dia memilih untuk menuntut ilmu karawitan di SMKI Jogjakarta. Setelah itu, Rahman lantas melanjutkan pendidikannya di ISI Jogjakarta dengan jurusan yang sama. Ini merupakan bentuk totalitas Rahman dalam melestarikan gamelan.
“Saya suka di (bidang) seni. Kalau bukan generasi muda seperti saya ini siapa lagi yang mau melestarikan gamelan. Lama-lama bisa hilang juga,” kisahnya.
Rahman turut memantau langsung proses pembuatan gamelan di rumahnya. Mulai dari penempaan logam, penyesuaian ukuran, pelarasan atau penyesuaian nada, pemolesan, hingga finishing.
Total ada 20 karyawan yang turut bekerja membantu proses pembuatan gamelan. Rahman menyebut gamelan Hadi Seno telah dipasarkan hingga luar negeri. Diantaranya Jerman, Jepang, Moskow, Amerika, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
“Permintaan dari luar negeri masih sering. Amerika itu dua tahun sekali, kalau Malaysia dan Brunei paling setahun sekali,” ujarnya.
Hadi Seno Gamelan menjadi satu-satunya pengrajin gamelan yang berlokasi di pusat Kota Jogja. Dalam sebulan, Hadi Seno Gamelan mampu memproduksi 5 hingga 10 set gamelan. Dibanderol dengan harga Rp 150 juta/set.
Dalam satu set terdiri dari berbagai jenis gamelan, diantaranya gender, slenthem, rebab, kentheng, gambang, bonang barung, bonang penerus dan beberapa gamelan lainnya.
“Untuk pengerjaan biasanya satu sampai tiga bulan,” katanya. (isa/dwi) Editor : Editor News