RADAR JOGJA - Moda transportasi sepeda memiliki peminat dari berbagai macam kalangan masyarakat. Bahkan, mereka berkumpul untuk membentuk suatu komutias. Salah satunya adalah Komunitas Onthelis Djadoel Jogjakarta (Kodja).
Komunitas ini cukup menarik karena memiliki ciri khas dengan sepeda onthel lawas. Selain itu, kostum yang dikenakan para anggotanya pun tak kalah unik.
Yakni menggunakan kostum tentara atau polisi zaman dulu. Tujuan dari penggunaan kostum tersebut tak lain karena identik dengan nama komunitas yang mengandung unsur jadul. Juga sebagai upaya untuk menjaga warisan sejarah.
Kodja berdiri sejak 1 Oktober 2010. Kini memiliki anggota kurang lebih 200 orang. Mayoritas anggotanya berusia 50 tahun ke atas. Meski begitu, ada pula anggota yang berusia muda. “Yang paling muda ada usia 28, kalau yang paling tua usianya 76,” kata salah satu pengurus Kodja Pramoko Pujinarto saat ditemui Radar Jogja Jumat (23/12).
Kodja sendiri, saat ini dikoordinir oleh Oyok Rusdiantoro selaku komandan. Dengan kegiatan utamanya adalah bersepeda. Rute perjalanannya pun hingga ke luar kota seperti Purworejo, Magelang, dan Solo. Biasanya dilakukan setiap dua minggu sekali.
Bagi Pramoko, pengalaman berkesan saat touring adalah saat ke Purworejo. Saat itu, para anggota Kodja cukup terkendala akibat hujan deras. “Tapi kami tetap semangat semua. Jalan pulang dari sana juga gelap, hujan deras pula tetap diterjang. Momen itu yang cukup berkesan, susah seneng bareng-bareng,” ucapnya.
Selain itu, komunitas ini juga rutin berkumpul setiap pagi di wilayah Tugu Jogja dan Titik Nol Kilometer pada Sabtu sore. “Dulu kami pernah dikasih tempat sama dinas pariwisata di depan Benteng Vredeburg, pakai pakaian jadul, menyambut wisatawan yang ke Jogja. Tapi sekarang beralih ke depan Museum Sonobudoyo,” beber Pramoko yang menjabat sebagai bendahara Kodja.
Selain kegiatan bersepeda, Kodja juga aktif dalam kegiatan sosial. Pada November, Kodja melakukan penggalangan dana di Titik Nol Kilometer dan perempatan Ring Road Druwo bagi korban gempa Cianjur. “Setiap Ramadan kami juga selalu buka bersama dengan kaum duafa dan bagi-bagi takjil,” ujar Pramoko.
Dia menjelaskan, Kodja beberapa kali pernah diminta oleh dinas pariwisata untuk ikut memeriahkan karnaval hari kemerdekaan Indonesia. Biasanya dilakukan dengan menyusuri area sumbu filosofis dari Tugu Jogja hingga Titik Nol Kilometer. Selain itu, komunitas ini juga ikut berziarah ke Taman Makam Pahlawan Kusumanegara saat Hari Pahlawan. “Saat Hari Pahlawan tahun lalu kami disambut dan dipersilahkan untuk ziarah, biasanya kan sulit kalau bukan orang penting. Setelah itu kami lanjut untuk baksos di panti asuhan di Imogiri,” jelas pria 56 tahun ini.
Melalui kegiatan-kegiatan tersebut membuat Kodja memiliki banyak relasi yang membuat orang-orang cukup bersimpati dengan komunitas ini. KODJA juga berupaya mengedukasi masyarakat. Untuk melestarikan budaya, seperti sepeda onthel.
Pramoko juga berpesan agar generasi muda bisa ikut nguri-uri kabudayan. Salah satunya lewat sepeda onthel. Karena sepeda onthel ini termasuk warisan budaya yang harus dijaga agar tidak termakan usia. “Harapannya Jogja bisa jadi kota sepeda dan mengurangi polusi. Meski teknologi berkembang tapi tempo dulu jangan sampai ditinggalkan,” kata ayah dua anak ini. (cr5/eno) Editor : Editor Content