Sang pemilik Tan Brata Halim menuturkan pemesanan sudah sejak Agustus 2022. Hanya saja permintaan relatif stabil. Dalam artian peningatan tidak terlalu signifikan.
“Pesanan patung biasa saja, ada peningkatan tapi tidak seberapa. Ada yang tidak keburu bikin, mendadak pesannya. Kita sudah siapkan modelnya sudah jadi dan setengah jadi tetap tidak bisa mengejar,” jelasnya ditemui di tokonya di Jalan Pajeksan, Kota Jogja, Rabu (21/12).
Produksi secara manual menjadi kendala tersendiri bagi timnya. Sehingga produksi tidak bisa terlalu banyak. Hanya saja dia menjamin kualitas patungnya tetap terjamin.
Brata menceritakan waktu produksi untuk patung ukuran kecil kisaran sepekan. Diawali dengan proses cetak, merapikan hingga proses cat. Sementara untuk patung besar bisa mencapai hitungan bulanan.
“Ini kerjaan tangan hand made tidak bisa melebihi, hanya terbatas,” katanya.
Penjualan patung tokoh keagamaan Rumah Patung Brata Gallery mampu menembus pasar luar negeri. Beberapa patung ukuran medium dan besar telah sampai Amerika Serikat dan Kanada. Pemesannya adalah rumah ibadah di kedua negara tersebut.
Permintaan patung mulai meningkat sejak perayaan Paskah. Berlanjut kemudian saat perayaan Hari Maria. Mayoritas permintaan tertinggii adalah patung Maria.
“Tapi sejak Agustus mulai ramai. Misalnya Paskah itu juga butuh jalan salib, kita nyambung ke hari Maria itu juga penuh selalu penuh. Belum dari sekolahan untuk suvenir,” ujarnya.
Mencapai tahapan ini, Brata bercerita tidaklah singkat. Pria berusia 78 tahun ini telah menyelami dunia patung selama 54 tahun. Mengawali dari teknik manual hingga mulai belajar teknologi digital komputerisasi.
“Bikin patung sudah 54 tahun. Dulu manual semua, sekarang tidak bisa manual sepenuhnya. Dituntut dengan ilmu, sekarang canggih, dengan komputer,” katanya.
Uniknya, Brata tidak memiliki basis ilmu pematung. Dia mempelajari seluruhnya secara otodidak. Berawal dengan belajar di Balai Batik di Jalan Kusumanegara Kota Jogja medio 1963. Belajar melukis batik kepada pembatik tradisional. Hingga akhirnya berlanjut belajar dari tokoh Edhi Sunarso tentang teknik mematung.
Seiring waktu berjalan, ketekunan menuntunnya pada kesuksesan. Terbukti kini dia memiliki 25 karyawan. Selain itu juga memiliki bengkel untuk berkarya di daerah Bantul.
“Dulu saya juga tidak bisa bikin patung lalu sering ke tempat pak Edhi Sunarso. Dikira saya dari ISI (Institut Seni Indonesia). Otodidiak saya, lalu belajar ada yang ngajarin saya dulu, seperguruan sama Basuki Abdullah dii Garut Jawa Barat. Belajar anatomi sampai saya bosen,” ujarnya.
Profesi pematung tokoh agama menjadi hikmah tersendiri baginya. Terutama untuk terus berdoa dan berusaha dalam menjalani hidup. Sehingga tidak hanya pasrah dengan keadaan yang terjadi. Dia mencontohkan kondisi selama pandemi Covid-19.
“Kita tidak pengaruh resesi, order tetap ada, lebih - lebih lagi pandemi, kan semua butuh doa, malah meningkat, dipasang di rumah. Karyawan juga bertahan selama pandemi, yang penting doa,” pesannya. (dwi) Editor : Editor News