RADAR JOGJA - Ini jadinya bila 17 seniman asal Magelang dan Jogjakarta berkolaborasi menciptakan ruang pameran lukis di Limanjawi Art House, Wanurejo, Borobudur. Berbagai lukisan pun ditampilkan untuk memenuhi ruang kosong. Mulai aliran realis, surealis, hingga naturalisme.
NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA
Kolaborasi unjuk karya seniman lintas provinsi ini, menurut Ketua Komunitas Seniman Borobudur Indonesia (KSBI) Umar Chusaeni, sebagai ungkapan syukur usai dibelenggu badai pandemi Covid-19. Sektor pariwisata mulai berjalan normal, pun dengan seni rupa.
Menurutnya, seniman harus terus berkarya. Mengukir tinta dan cat di atas kanvas. Pameran yang berjatuk “Spirit of Java” ini dibuka setiap hari mulai pukul 08.00-20.00, dari 18 Desember 2022 hingga 8 Januari 2023. “Istimewanya lagi, pembukaan pameran turut dihadiri langsung oleh bhante atau pemuka agama Buddha asal Thailand,” ujarnya kemarin (19/12).
Dengan jumlah 53 karya, mengandung dua tema yang berbeda. Pertama, kerakyatan. Ada pun yang ditampilan berkaitan dengan panen, hingga suburnya tanah di Pulau Jawa. Terlebih, kehidupan sosial masyarakat Jawa tergolong sederhana.
Kedua, semangat perjuangan. Seperti mengenai masalah-masalah sulit saat pandemi atau yang lainnya. “Mungkin karena banyaknya seniman, mereka punya konsep masing-masing. Jadi, ini sangat beragam karena banyak seniman,” paparnya.
Pameran kolaborasi dua daerah ini, menurut Umar, bukan sekadar memamerkan hasil karya. Tapi juga menjadi ruang silaturahmi. Tidak hanya pelaku seni, tapi juga pelaku pariwisata. Karena pergerakan sektor pariwisata tidak lepas dari seni budaya.
Salah seorang peserta pameran asal Borobudur Easting Medi menyambut baik adanya pameran ini. Sebagai seorang seniman, ia tentu bersemangat mengikutinya lantaran pernah beberapa kali tertunda. “Kemarin sempat ngadain (pameran), tapi masih daring, jadi sepi,” bebernya.
Bagi dia, pameran seni lukis akan terasa menyenangkan dan memuaskan ketika digelar secara langsung. Terlebih jika mendapat apresiasi dari para pengunjung dan penikmat seni lainnya.
Ia juga berkesempatan menunjukkan salah satu karyanya berjudul “Star Dust Light”, artinya debu bintang yang bercahaya. Lukisan itu menceritakan seorang Buddha Sidharta Gautama sebagai penerang.
Menariknya, warna lukisan itu terinspirasi dari sebuah tanaman Aglonema yang sempat ramai sewaktu masa pandemi. “Tapi, ini menculik dari warna jenis tanaman yang saya ambil. Karena saat Covid-19 kemarin saya menanan banyak tanaman hias,” jelasnya. Dengan adanya kegiatan ini, dirinya berharap, bisa terus berlanjut. Tujuannya untuk mendorong agar para seniman dapat terus berkarya. (laz) Editor : Editor Content