Kabid Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinkes Kota Jogja dr Lana Unwanah membenarkan anak berpotensi tertular TB. “Proporsi TB anak dibanding dewasa 29 persen yang kami temukan, 71 persen pada dewasa. Berdasar jenis kelamin banyak laki-laki yakni 55 persen, sementara perempuan 45 persen,” bebernya saat diwawancarai usai acara pernyataan bersama upaya kolaborasi penanggulangan TB di Kota Jogja, kemarin (13/12).
Lana membeberkan, penularan pada anak banyak diakibatkan oleh kontak erat serumah. Kasus umumnya berawal dari interaksi penderita TB dewasa yang tidak taat protokol kesehatan (prokes). “TB memang ditularkan dari orang dewasa, serumah, pengasuh kadang kala, bisa juga orang terdekat lain,” sebutnya.
Ditekankan, imunitas anak cenderung belum mantap. Sehingga jika ada anggota serumah yang positif, anak mudah tertular. “Maka harus dilakukan tracing. Harus diobati sampai negatif dan penderita TB laten prokes. Diupayakan di rumah tetap menggunakan masker dan rajin cuci tangan. Selama 1-2 bulan pertama pengobatan betul menjaga,” pesannya.
Dalam upaya menekan TB, Dinkes Kota Jogja membahas ketersediaan selter TB. Mengingat pula sebagian rumah warga belum memiliki ruangan khusus dalam perawatan TB agar tidak menularkan pada anggota serumah. “Tapi saya belum bisa mengatakan banyak, karena baru tahap pembahasan awal,” ucapnya.
Direktur Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DIJ Agus Triyanto pun membeberkan temuannya. Tracing yang dilakukan pihaknya pada Januari-November 2022 terlaksana sebanyak 372 untuk indeks terkonfirmasi TB bakteriologis dan TB anak. Berdasar indeks yang diterima dari Dinkes Kota Jogja sejumlah 702 indeks. Terlaksana ada 8.033 kontak yang dilakukan skrining. Sebanyak 783 memenuhi syarat rujuk, 710 berhasil rujuk, 670 tes negatif, dan 40 hasil positif. “Sebanyak 21 pemeriksaan rontgen, lima pemeriksaan TB anak, dan 14 pemeriksaan TCM,” jelasnya.
Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Jogja Krisnadi Setyawan mendorong pembangunan selter TB. Menimbang waktu pengobatan TB yang lama dan berpotensi menular. Ia berharap Pemkot Jogja dapat dimasukkan dalam rencana kerja pemerintah daerah (RKPD) di 2023. “Kita memerlukan satu tempat atau selter untuk menampung warga yang terpapar penyakit menular,” ujarnya. (fat/laz) Editor : Editor Content