Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Fenomena La Nina Diprediksi hingga Maret

Editor Content • Sabtu, 26 November 2022 | 18:39 WIB
Photo
Photo
RADAR JOGJA - Fenomena La Nina diprediksi akan berlangsung sampai Maret 2023. Pada November ini, fenomena tersebut sudah masuk kategori moderat atau sedang. Adanya La Nina ini yang menyebabkan intensitas curah hujan lebih dari biasanya untuk DIJ dan sekitarnya.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG DIJ Reni Kraningtyas mengatakan, fenomena La Nina jika pada bulan Oktober lalu masih berada dalam kategori lemah. “La Nina akan terus berlanjut pada Maret 2023 dan berangsur-angsur menuju netral,’’katanya dalam Forum Wartawan DPRD DIJ di Gedung DPRD DIJ, kemarin (25/11).

Reni menjelaskan, wilayah DIJ sudah mulai masuk musim penghujan pada destarian 2 atau di bulan Oktober lalu. Suhu muka laut di DIJ dan sekitarnya cukup hangat yang memicu awan hujan. Namun di sisi lain, suhu muka laut ada yang cenderung lebih dingin, di mana hal itu menandakan anomali suhu muka laut di Pasifik negatif yang menyebabkan La Nina.

“Jadi La Nina ini berdampak pada penambahan curah hujan di wilayah kita, di DIJ khusunya. Jadi kita sudah musim penghujan, kita mendapat suplai uap air dari Benua Asia menuju wilayah kita. Karena kita mengalami fenomea La Nina, kita juga mendapatkan pasokan uap air dari Pasifik menuju wilayah kita,” ujarnya.

Menurutnya, selain fenomena La Nina, tingginya intensitas curah hujan di DIJ ini juga diakibatkan adanya pasokan uap air dari pantai timur Afrika menuju pantai barat Sumatera dan berimbas ke DIJ dan sekitarnya. “Ini menambah lagi intensitas musim penghujan saat ini hingga tahun depan,” jelasnya.

Demikian pula cuaca ekstrem itu juga menyertai musim penghujan ini. Biasanya curah hujan akan tinggi di atas 50 mm/jam atau 61 km/ jam yang disertai adanya angin kencang, hujan es, dan petir. Namun kondisi cuaca ekstrem di setiap wilayah berbeda-beda.

“Cuaca ekstrem bisa menyebabkan angin puting beliung yang di wilayah itu terdapat awan CB. Banjir dan longsor juga menjadi ancaman akibat cuaca ekstrem ini,” terangnya.

Kepala Pelaksana BPBD DIJ Biwara Yuswantana mengatakan, tingginya intensitas musim hujan yang terjadi saat ini merupakan peristiwa alam yang dapat berdampak pada bencana. Peristiwa alam bisa menjadi bencana ketika bertemu kerentanan. Misalnya angin kencang bertemu dengan pohon besar yang lapuk dan kemudian roboh menyebabkan adanya korban.

“Sebenarnya kita bisa meminimalisasi risiko itu agar peristiwa alam tidak menjadi bencana. Misalnya dengan melakukan perhitungan-perhitungan yang matang agar tidak menimbulkan korban,” katanya.

Terlebih, DIJ merupakan wilayah yang di sisi baratnya dikelilingi perbukitan Menoreh, sisi timur pegunungan kapur, sisi utara Gunung Merapi dan sisi selatan DIJ berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Hal ini menyebabkan DIJ menjadi salah satu wilayah rawan bencana, terutama bencana hidrometeorologi dan erupsi gunung berapi.

Menurutnya, saat ini dua kabupaten di DIJ yakni Bantul dan Gunungkidul sudah menyatakan diri siaga darurat. Sedangkan Kulonprogo dan Sleman masih dalam proses. Oleh karena itu, Pemprov DIJ diminta untuk menetapkan siaga darurat hidrometeorologi di DIJ.

“Artinya dengan kebijakan ini kemudian bisa meningkatkan potensi yang ada agar berada pada level kesiapsiagaan. Bila terjadi sesuatu, kita tinggal aktivasi dari proses yang kita lakukan, baik jangka panjang maupun jangka pendek,” ujarnya.

Untuk aktivasi proses jangka panjang, bisa dilakukan melalui edukasi dan sosialisasi masyarakat pemahaman kebencanaan, pembentukan kelembagaan, SPAB dan lainnya. Sedangkan dari sisi kebijakan, saat ini DIJ sudah memiliki delapan klaster.

“Klaster evakuasi itu koordinatornya Basarnas DIJ, klaster kesehatan dari Dinas Kesehatan DIJ dan sebagainya. Itu maksudnya agar semua siap ketika ada panggilan yang tidak kita harapkan,” tambah Biwara. (wia/laz) Editor : Editor Content
#Fenomena La Nina