Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

BBPOM Jogjakarta Ingatkan Bahaya Campuran Jamu

Editor News • Kamis, 24 November 2022 | 23:22 WIB
EDUKASI : BBPOM Jogjakarta bersama dengan akademisi farmasi UGM memberikan edukasi tentang bahayanya campuran jamu dan bahan kimia obat, Kamis (24/11). (ANNISSA KARIN/RADAR JOGJA)
EDUKASI : BBPOM Jogjakarta bersama dengan akademisi farmasi UGM memberikan edukasi tentang bahayanya campuran jamu dan bahan kimia obat, Kamis (24/11). (ANNISSA KARIN/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Jogjakarta memberikan edukasi tentang jenis dan bahaya campuran obat tradisional dengan bahan kimia obat (BKO). Kegiatan ini merupakan respon masih maraknya temuan jamu dengan campuran BKO di wilayah Jogjakarta.

Kepala BBPOM Jogjakarta Trikoranti Mustikawati mengatakan sepanjang 2022 telah ada puluhan temuan merek jamu yang mengandung BKO. Seluruhnya memiliki takaran dosis yang tidak jelas. Apabila dikonsumi dalam waktu lama dapat berdampak pada kesehatan. 

“Kami melakukan pengawasan ini ke sarana distribusi dan toko-toko jamu. Apabila ada produk-produk tanpa izin edar ataupun mengandung BKO, akan kami amankan dan dimusnahkan,” jelasnya saat ditemui di salah satu hotel di Jalan Magelang, Sleman, Kamis (24/11).

Trikoranti mengakui jamu merupakan warisan leluhur. Merupakan campuran atau ramuan yang telah digunakan sebagai alternatif pengobatan. Namun, jamu menjadi berbahaya bagi tubuh ketika dicampur dengan BKO.

Dia memaparkan jamu dengan campuran BKO kerap kali meringankan keluhan. Namun sifatnya hanya dalam waktu yang cepat. Jika terus menerus dikonsumsi dalam jangka waktu lama akan memberikan efek buruk bagi tubuh.

“Obat tradisional tidak boleh mengandung BKO. Memang pertama kali diminum rasanya cespleng, terasa cepat sembuh. Tapi, penggunaan hingga beberapa bulan akan menyebabkan kerusakan ginjal,” katanya.

Kandungan BKO yang kerap ditambahkan pada obat tradisional misalnya paracetamol, fenilbutason dan deksametason. Ini kerap ditemukan pada jamu pegal linu. Adapula kandungan siproheptadin pada jamu penggemuk badan

Temuan lain adalah penggunaan sildenafil dan tadalafil pada jamu stamina pria. Sibutramin pada jamu pelangsing dan masih banyak lagi. Pemberian BKO juga dilarang pada jamu gendong. Sebelum dikonsumsi, masyarakat diminta untuk memastikan jamu dibuat segar dan proses pembuatannya higienis.

“Boleh ditambahkan madu. Bila ditambahkan produk jadi, hanya obat tradisional yang mempunyai izin edar. Tetap tidak boleh menambahkan obat atau bahan kimia apapun dalam jamu,” ujarnya.

Dosen Fakultas Farmasi UGM Zullies Ikawati menuturkan kandungan BKO dalam jamu dapat merusakan organ tubuh. Mulai dari kerusakan ginjal, lambung dan organ lainnya. Alih-alih sembuh justru penyakit bisa bertambah.

Dia menyontohkan kandungan fenilbutazon yang kerap ditemui pada jamu anti rematik atau pegal linu. Menurutnya, kandungan ini merupakan obat keras sebagai anti radang. Untuk mendapatkannya harus menggunakan resep dokter. Obat ini, bekerja menghambat mediator radang dan nyeri yang disebut prostaglandin.

“Efek samping utama obat ini adalah gangguan lambung. Karena prostaglandin sebenarnya juga diperlukan tubuh untuk melindungi lambung. Jika digunakan tidak sesuai aturan dan berlebihan dapat menyebabkan lambung bocor,” katanya.

Zullies mengatakan, biasanya pasien justru tak merasa sakit atau perih pada lambung. Namun, pasien merasakan beberapa gejala seperti nyeri pada ulu hati, muntah darah, feses kehitaman, anemia, dan gejala lainnya. 

Zullies mengimbau masyarakat untuk memperbanyak literasi mengenai jamu dan BKO. Efek instan dan manjur yang dirasakan usai mengonsumsi jamu juga patut diwaspadai. Kalimat iklan produk jamu yang berlebihan bisa menjadi filter awal masyarakat untuk menghindari produk tersebut.

“Sebenarnya BKO sendiri tidak berbahaya jika digunakan sesuai aturannya. Masalahnya, pada obat tradisional penambahan BKO itu memang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Tidak tahu persis berapa dosisnya, dan memang sengaja tidak diinformasikan untuk mengelabuhi konsumen,” pesannya. (isa/dwi) Editor : Editor News
#bahaya jamu #BBPOM Jogjakarta #bahan kimia obat #manfaat jamu #campuran jamu