Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dijadikan Ikan Crispy, Harga Jual Rp 60 Ribu Per Kilogram

Editor Content • Kamis, 24 November 2022 | 14:42 WIB
LUAR BIASA: Produksi Red Devil Crispy di Padukuhan Soka, Kalurahan Hargowilis, Kapanewon Kokap, Kulonprogo, kemarin.(HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA)
LUAR BIASA: Produksi Red Devil Crispy di Padukuhan Soka, Kalurahan Hargowilis, Kapanewon Kokap, Kulonprogo, kemarin.(HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA)
 

RADAR JOGJA - Ikan red devil yang selama ini dianggap sebagai ikan hama di Waduk Sermo ternyata dapat dimanfaatkan. Warga Hargowilis, Kapanewon Kokap, Kulonprogo menjadikan ikan predator tersebut sebagai kudapan khas dan bernilai jual tinggi.

HENDRI UTOMO, Radar Jogja, Kulonprogo

Ledakan populasi ikan red devil di Waduk Sermo, seolah tidak mampu dikendalikan. Awalnya, tidak ada orang yang mau membeli atau mengolah ikan tersebut.

Adalah Kasin, 55, warga Padukuhan Soka, Kalurahan Hargowilis, Kapanewon Kokap, Kulonprogo yang awalnya hanya coba-coba menggoreng ikan pemangsa ini. Suatu saat ikan red devil goreng itu sisa. Kemudian ia goreng kembali dan ternyata menjadi lebih renyah.

Ia kemudian mencoba menawarkan di warung-warung seputar waduk Sermo. Wisatawan yang berkunjung ke Waduk Sermo ternyata suka. Laku keras!

Aksi coba-coba itu dilakukan di tahun 2006. Hingga akhirnya usahanya mendapat perhatian dari Pemkab Kulonprogo sekaligus mendapat bimbingan langsung dari Kementrian Perikanan. "Di 2010 saya direkrut menjadi kelompok binaan, sejauh itu pemasaran sudah semakin luas," ucapnya, kemarin (23/11).

Photo
Photo


Dijelaskan, peminat ikan yang memiliki tekstur daging kenyal dan gurih ini semakin banyak. Seiring dengan bantuan promosi dari berbagai pihak.
Tidak hanya olahan ikan red devil. Usahanya terus berkembang mengolah ikan teri yang diolah bersama kentang dan juga ikan lele yang diolah menjadi abon.

Olahan utama tetap ikan red devil, rata-rata sehari bisa mengolah 80 kilogram. Untuk ikan teri bisa mengolah 200 kilogram per minggu, dan untuk ikan lele bisa 20 kilogram per hari. “Permintaan sempat turun awal pandemi, namun sekarang sudah berangsur pulih kembali," jelasnya.

Bahkan pemasaran kini semakin luas, tidak hanya di lokal Kulonprogo, Red Devil Crispy juga sudah mampu menembus pasar regional, nasional bahkan internasional. "Sekarang sudah kirim ke Kota Jogja, Jawa Tengah, Jawa Barat, Kalimantan, Sumatera dan bahkan sempat dibawa ke Jerman dengan respon pasar yang sangat baik," ucapnya.

Suwartinah, 55, menambahkan, red devil bukan ikan budidaya. Yang membuat ikan ini menjadi lebih segar karena memakan pakan alami. Ikan ini memang dibasmi karena sifatnya predator. Sehingga suka menyerang benih ikan nila sebagai ikan asli Waduk Sermo. “Namun sampai saat ini populasinya justru semakin banyak,” jelasnya.

Dijelaskan, ikan red devil masih kecil sudah bertelur. UGM pernah meneliti, ternyata populasi ikan betina lebih dari 90 persen. “Itu yang menyebabkan ikan ini perkembangbiakannya sangat cepat dan menguasai waduk Sermo," katanya.

Menurutnya, untuk mendapatkan bahan baku ikan red devil, warga bisanya mencari sendiri dengan menjaring di malam hari. Jika kekurangan stok bisa beli dari pengepul, harganya Rp 6 ribu per kilogram. Namun ketika diolah menjadi crispy bisa menjadi 3,5 ons setara Rp 70 ribu.

Tidak hanya dititipkan di warung-warung sekitar waduk Sermo, tetapi juga masuk rumah makan. “Ada juga pedagang grosir yang beli langsung untuk dikemas-jual kembali," ujarnya.

Kelebihan ikan red devil ini selain dagingnya yang lebih kenyal, ternyata juga tidak mudah membusuk. Durinya juga lebih panjang sehingga tidak berbahaya ketika dikonsumsi anak kecil sekalipun.
"Pengolahan kebetulan kami punya resep rahasia, ikan menjadi sangat renyah dan gurih. Kalau bumbu dasarnya sama, garam, daun jeruk untuk menghilangkan aroma amis," katanya.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Kulonprogo mencoba membantu mempromosikan produk ini dengan mendatangkan media dan sejumlah konten kreator. “Olahan ikan red devil ini menjadi produk UMKM yang unik dan khas dari Kapanewon Kokap,” ujarnya. (bah) Editor : Editor Content
#Ikan red devil #ikan predator #Kulonprogo