Ketua Asosiasi Petani Sayur Kota Yogyakarta (APSKY) Heroe Poerwadi (HP) mengatakan, ada lebih dari 260 kelompok tani di bawah naungannya. Masing-masing kelompok beranggotakan 20-30 orang petani dan memiliki kebun secara sendiri. “Kami punya slogan mangan opo sing ditandur, tandur opo sing dipangan. Kami berharap, apapun kebutuhan sehari-hari dapat dicukupi di lingkungannya,” bebernya, kemarin (20/11).
Mantan Wakil Wali Kota Jogja itu menjelaskan, melalui APSKY dia cari solusi agar tidak tergantung dengan pasokan dari luar wilayah. Sehingga dilakukan pemanfaatan minim lahan. Supaya masyarakat bisa berkebun untuk menghasilkan komoditas sayur. “Otomatis tingkat konsumsinya tinggi. Kebetulan, petani sayur di Kota Jogja, selain memenuhi kebutuhannya, juga memenuhi penguatan gizi anak stunting,” ungkapnya.
Ke depan, HP membidik pasar ekspor sayur segar dan rempah. Mengingat jumlah konsumsi masyarakat mampu terpenuhi. “Penjualan (sekarang, Red) masih di dalam Jogja. Ada beberapa yang sudah ekspor. Misal rempah-rempah bir pletok, bir Jawa, wedang uwuh. Nampaknya produk rempah menarik dari luar. Ini yang sedang kami dorong,” paparnya.
Penataan dilakukan oleh HP sejak pembibitan. Dia mulai menata klaster tanaman tertentu dan periodisasi penanaman. “Biar efeknya menjadi bagus. Kami juga arahkan pada pengolahan hasil pertanian. Agar nanti nilai ekonominya meningkat,” lontarnya.
Melalui upaya ini, HP berharap tumbuh petani-petani baru di Kota Jogja. Seperti pensiunan yang tetap dapat berkarya, kendati sudah memiliki keterbatasan mobilitas. Termasuk warga dari yang tidak punya ketertarikan pada pertanian, kemudian tertarik pada pertanian. Kemudian diajak untuk mengolah agar ada nilai ekonomi.” Saya kira beriringan, dengan konsumsi sayur dan InsyAallah meningkatkan kesejahteraan warga Kota Jogja,” jabarnya.
Sementara Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kota Jogja Suyana mengungkap adanya karakter yang berbeda. Antara petani di Kota Pelajar dengan kabupaten lain. Petani di perkotaan cenderung terbuka dengan teknologi pengembangan budidaya tanaman.
Salah satu program pertanian yang diunggulkan mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Jogja itu adalah Lorong Sayur yang sekarang jumlahnya sekitar 90 di Kota Jogja. Dia membeberkan pula, ada dua kelompok yang jadi perhatian program ini. Antara lain warga yang masuk dalam daftar kartu menuju sejahtera (KMS) dan ibu hamil. “Kegiatan di Jogja terkait kelompok tani dan kampung buah-sayur wajib mengikutsertakan pemegang KMS dan ibu hamil. Meski mereka tidak bisa ikut kerja bakti tanam, saat panen harus mendapat sayur dan buah,” sebutnya.
Melalui program tersebut, DPP pun berhasil tingkatkan konsumsi sayur dan buah di Kota Gudeg. Nilai konsumsi sayur pada tahun 2018, hanya sekitar 18 persen. “Dengan formula penghitungan, saat ini nilai konsumsi sayur di Kota Jogja sudah di atas 30. Jadi kami bisa meningkatkan pola pangan harapan warga Kota Jogja,” ujarnya. (fat/pra) Editor : Editor Content