Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Wujud Kedekatan Anak-anak dengan Alam

Editor Content • Minggu, 20 November 2022 | 18:15 WIB
Photo
Photo
RADAR JOGJA - Adu jangkrik sudah menjadi budaya di kalangan anak-anak zaman dulu. Mereka yang tinggal di dekat tegalan atau sawah yang kering, tak pernah ketinggalan berburu hewan bersuara krik...krik...krik ini.

Sebagaian ada yang merawatnya. Untuk dinikmati suaranya. Tetapi tak sedikit juga diadu. “Dalam proses kebudayaan, ini bagian permainan anak-anak yang datang dari alam,” ungkap dosen Pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma (USD) Jogjakarta Gregorius Budi Subanar kepada Radar Jogja (18/11).

Anak-anak yang berburu jangkrik di sawah tegalan, prosesnya pada satu sisi mendekatkan pada alam. Di sisi lain menikmati dengan berbagai caranya. Ada unsur memelihara, menikmati suaranya, adu ketangkasan. “Hal seperti ini bagian proses pembentukan budaya anak,” tambahnya.

Sambil mengenang masa lalu, pria yang akrab disapa Romo Banar ini mengaku pernah menjadi pelaku adu jangkrik. Sewaktu duduk di bangku SD. Banyak penjual yang menjajakan jangkrik ke sekolah-sekolah.

Di sekolahnya misalnya. Penjual jangkrik menjual lengkap dengan kandangnya. Ada dua jenis kandang. Yakni, kandang bumbung bambu yang kedap udara dan kandang bilahan bambu yang disusun segi empat. Lalu bagian sudutnya dikaitkan dengan karet atau pentil. Nah, jangkrik yang diwadahkan di tempat ini bunyinya terdengar lebih nyaring.

Jangkrik ada yang berwarna hitam legam dan coklat kemerahan. Yang hitam legam disebut jliteng. Yang coklat kemerahan jolabang. “Bahkan sebutan jliteng ini juga ada dalam pewayangan ketika Werkudoro menyebut kakanya yang berkulit hitam legam dengan sebutan jliteng,” terangnya.

Lalu juga ada binatang serupa jangkrik. Tapi itu gangsir. Suaranya juga nyaring. Tetapi hidupnya di tanah basah. Ada juga jangkrik trondolo, sulit ngerik dan memiliki sayap tipis terlihat gundul. Jangkrik jenis kelamin laki-laki disebut jennang. Kalau perempuan disebut jedok.

“Jangkrik yang diadu rata-rata cowok. Bokongnya bersungut panjang. Ngeriknya nyaring. Kalau jangkrik perempuan, bisa ngerik tapi pelan,” beber Romo Banar.

Dia menceritakan, sebelum diadu jangkrik lebih dulu dijantur. Sungut di bagian kepalanya dipegangi menggantung. Atau bagian kakinya diangkat untuk melatih kakinya. Lalu agar berbunyi nyaring, sebelum diadu, jangkring diberikan cabai pedas. Sampai-sampai ada istilah sambel jangkrik. Artinya sambel yang hanya terbuat dari tumbukan cabai, tanpa diberi campuran apa pun. “Sebutan ibu-ibu dulu,” ujarnya.

Untuk merangsang suara jangkring, pada bagian pantat dikili-kili menggunakan bunga rumput. Itu untuk memancing emosi jangkring. “Lalu jangkrik akan ngerik. Bulunya akan megar,” lanjutnya.

Pengalaman masa kecil tentang jangkrik ini pernah ia tulis dalam novelnya berjudul “Mata Air, Air Mata Kota” pada 2019 lalu. “Di dalam buku itu ada cerita tentang adu jangkrik dan adu gangsir,” ucapnya.

Permainan adu jangkrik itu sekarang sudah sangat jarang dilakukan. Biasanya dilakukan anak SD. “Saya kira ikan cupang lebih digemari anak-anak sekarang,” tandasnya. (mel/laz) Editor : Editor Content
#Adu jangkrik