Namanya Sutaryono. Bapak berusia 60 an tahun ini mengatakan, adu jangkrik adalah permainan adu binatang yang pernah digemari masyarakat. Duel antarjangkrik memang mengerikan.
“Salah satu cara mainnya, jangkrik dinyatakan menang jika musuhnya sudah tidak ada perlawanan atau mati,” kata Sutaryono kepada Radar Jogja (18/11).
Pensiunan pegawai Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul ini kemudian menerangkan teknis permainan adu jangkrik. Sebelum bertanding di 'ring tinju', pemiliknya mencari jangkrik terkuat di rasnya.
“Saya mencari di tanah lapang berongga. Atau kalau tidak, di tanah lereng,” ujarnya. Jenis jangkrik paling hebat bernama jlitheng dan jliring. Keduanya memiliki corak warna pekat. Suaranya ketika mendecit sangat keras atau 'ngetir'.
Tanda-tanda itulah yang dijadikan patokan untuk mengetahui kedigdayaan jangkrik dalam bertarung. “Dalam permainan adu jangkrik, biasanya yang dipilih adalah jangkrik jantan dengan sungut panjang, rahang kuat, mulut lebar, dan warna pekat hitam,” ungkapnya.
Setelah jangkrik didapat, disepakati untuk bertanding dengan cara diletakkan pada arena aduan. Ring tinju bebas ala jangkrik ada yang terbuat dari papan dan bambu. Kala itu Sutaryono kecil memilih bahan bambu. “Bambu dibelah tengah mirip kentongan. Kedua jangkrik dimasukkan ke dalam lubang bambu itu,” ucapnya.
Saat permainan berlangsung, jangkrik akan dirangsang dengan 'kili' bulu atau rumput pada bagian bulu atas kepala agar saling serang. Jangkrik dinyatakan kalah jika memenuhi sejumlah kriteria.
Melompat dari bambu, tidak ada perlawanan, atau jangkrik terluka atau mati. “Saat permainan berlangsung, penonton tidak boleh berisik agar tidak mengganggu permainan,” ungkapnya. (gun/laz) Editor : Editor Content