Pemilihan materi ini merujuk pada pengalamannya sehari-hari. Bahwa karir seorang figur publik bisa berhenti akibat budaya ini. Mulai dari meredup hingga menghilang dari dunia gemerlap keartisan.
“Materi yang disampaikan itu lanjutan dari materi kemarin ya. Ini sekarang kita mempelajari soal media dan krisis handling. Jadi selain mempelajari kajian selebritasnya disini juga mempelajari kita membaca situasi memitigasi risiko dan juga menghandle suatu krisis,” jelasnya ditemui usai mengajar di Fisipol UGM Jogjakarta, Kamis (10/11).
Prilly menuturkan materi ini memiliki kaitan dengan public relation. Bagaimana bisa menghadapi suatu krisis yang nanti dihadapi. Terlebih sebagai sosok selebritas yang potensi ekspose permasalahan cukup besar.
“Jadi ya hari ini pembahasannya lebih kompleks daripada pertemuan pertama. Kalau pertemuan pertama kan perkenalan materinya dulu, sekarang sudah lebih kompleks dan banyak studi kasus juga yang kita bahas,” katanya.
Prilly sedikit menceritakan tentang materi perkuliahannya. Dia mengambil contoh kasus aktor Hollywood yang terkena kasus cancel culture. Berkat respon yang tepat, cancel culture dapat dihadapi dengan bijak.
Strategi yang digunakan adalah komunikasi. Setelahnya adalah upaya bangkit pasca terkena cancel culture. Sehingga dapat melanjutkan hidup termasuk profesi selebritas dan keartisan.
“Indonesia ada tapi enggak separah luar negeri ya. Karena kalau luar negeri itu sekalinya di cancel, semuanya dicancel. Bukan cuma dicancel dari publik tapi juga dicancel dari media, media pasti akan menolak mempublikasikan tentang dia, dicancel lewat pekerjaan-perkerjaannya,” ceritanya.
Dalam perkuliahan kali ini, Prilly menilai mahasiswanya lebih aktif bertanya. Pertanyaannya seputar studi kasus cancel culture dan penanganannya. Hingga merembet ke industri kreatif, industri film dan industri entertainmen.
“Jadi kita membahas satu kasus, kita bahas kita diskusi. Jadi menurut aku kelas hari ini tuh lebih interaktif dan lebih banyak insight yang didapat,” kesannya.
Berakhirnya masa mengajar Prilly di Fisipol UGM bukanlah akhir yang sebenarnya. Prilly mengaku masih akan menjadi dosen praktisi. Tentunya melalui program Merdeka Belajar Kampus Belajar Kemendikbud Ristek.
Dia sangat siap apabila ada kampus lain yang tertarik mengundangnya menjadi dosen praktikum. Dengan senang hati dia akan berbagi pengalamannya. Tentunya yang memiliki kaitan materi perkuliahan.
“Kalau saya sih sangat terbuka sekali untuk kesempatan mengajar dimanapun karena memang ini adalah salah satu passion saya juga gitu. Dari kecil kan saya pengen banget bisa jadi guru,” ujarnya.
Baginya pertemuan ini menjadi jendela pengetahuan bagi semua pihak. Disatu sisi dia mendapatkan pengalaman sebagai pengajar. Disisi lain Prilly bisa berbagi pengalamannya sebagai seorang artis.
Prilly membeberkan dunia selebritas tidak sepenuhnya sama seperti yang tersaji di layar kaca. Dinamika inilah yang menurutnya menarik dibahas dengan teori perkuliahan. Sehingga ada persinggungan antar teori dan fakta lapangan.
“Jadi seneng banget kalau misalnya pandangan-pandangan dari saya materi-materi dari saya itu bisa berguna untuk mahasiswa. Untuk mereka bisa punya pandangan lebih luas lagi karena kan kadang apa yang diajarkan di teori sama lapangan kerja kan kenyataannya berbeda, jadi saya kasih pandangan itu ke mereka,” katanya. (dwi) Editor : Editor News