Jumini melangkah dengan ragu. Dia tak memungkiri rasa takutnya. Lantaran kali pertama baginya membacakan puisi. Sementara di belakangnya, berjajar sembilan orang yang mengikuti langkahnya. “Sebelum tampil deg-degan, bagaimana nanti kalau saya keliru,” ujar Jumini mencoba memantapkan diri.
Sesampainya di panggung, Jumini justru lantang mengucapkan salam. Bagi hadirin yang datang dalam gelaran Sastrastri yang merupakan rangkaian Festival Sastra Yogyakarta. Keraguannya hilang, berganti semangat. “Wanita Jawa,” mulainya, membacakan judul puisi yang dibawakan.
Usai pembacaan puisi, Jumini semringah. Dia mendapat pujian dan apresiasi dari pengunjung. Bahkan dia juga mendapat saweran sekitar Rp 500 ribu atas pementasannya. “Saya seumur-umur belum pernah baca puisi,” ungkapnya.
Latihan yang diikuti Jumini dan rekan buruh gendongnya terbanyar. Kendati hanya dilakukan sebanyak dua kali. “Latihan tanggal 5 dan 7 November 2022, sekitar pukul 10.00 sampai 11.30,” bebernya.
Perempuan berjilbab ungu ini mengaku bangga dapat tampil dan membacakan puisi Wanita Jawa. Lantaran, menurutnya, puisi ini penuh makna. Menyinggung tentang pakaian dan agama yang dikenakannya. Tidak mengubahnya sebagai pelaku dan berkarakter budaya Jawa. “Ini juga menguri-uri budaya. Agama dan tampilanku pakai jilbab, aku ki tetep wong Jawa (menggunakan sanggul, Red),” ujarnya.
Selain itu, Jumini juga menegaskan kemampuan seorang perempuan. Dia enggan, perempuan dianggap lemah. Apa lagi dipandang remeh. “Misal ada yang mengganggu harus berani melawan, itu arti dari puisi tadi,” ucapnya.
Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) atau Kundha Kabudayan Kota Jogja Yetti Martanti mengatakan, sastra merupakan media paling kritis menyuarakan isu sosial. Media sastra pun beragam, mulai dari geguritan, macapat, dongeng, puisi, novel, cerpen, tembang, atau menulis apa pun. “Dengan sastra, apa yang disampaikan tetap santun. Maka sastra jadi media tepat dalam menyampaikan kegelisahan masyarakat,” ujarnya.
Perempuan yang telah tiga tahun menjabat Kadisbud Kota Jogja ini menegaskan, sastra dapat lahir di mana pun. Lantaran sastra merupakan produk budaya melalui bahasa. Termasuk di pasar yang sebetulnya penuh dengan pola bahasa. Misalnya saja, dalam proses jual beli.
“Proses yang ada di sini sangat dekat dengan sastra. Cuma kita nggak sadar. Bahwa kita nyastra di pasar sudah ada. Hal yang tidak disadari ini coba kami presentasikan. Supaya tumbuh pemahaman kesadaran yang lebih baik,” paparnya.
Yetti juga menerangkan alasan lain membawa sastra ke pasar. Menurutnya, semakin banyak sastrawan yang main ke pasar, akan makin banyak pula inspirasi yang diperoleh oleh sastrawan. “Tema kali ini berbeda, melibatkan perempuan dari banyak profesi. Salah satunya buruh gendong. Maka kami ambil pasar menjadi media representasi,” jelasnya.
Provokator Festival Sastra Yogyakarta Paksi Raras Alit membenarkan, tim kreatifnya ingin dekatkan sastra pada semua lapisan masyarakat. Lantaran, menurutnya, sastra selama ini seolah-olah hanya milik penyair atau penerbit buku. “Ini justru kami balik. Sastra itu milik semua orang yang memiliki gagasan estetis terhadap bahasa, maka dia layak bersastra,” tandasnya. (fat/laz) Editor : Editor Content