Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengandung Sodium Sitrat, Efektif pada Pakaian Putih

Editor Content • Minggu, 6 November 2022 | 14:18 WIB
Photo
Photo
RADAR JOGJA - Sebelum produk pembersih noda baju masif bermunculan, masyarakat lebih dulu menggunakan blawu atau blau untuk mencuci pakaian. Meski tidak mengandung busa, blau ampuh mengangkat noda. Khususnya pada pakaian berwarna putih. Blau ada dua wujud, yang batangan dan serbuk.

Dosen Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Gadjah Mada Dr. Sc Robby Noor Cahyono S.Si, M.Sc menjelaskan, blau memiliki kandungan biang blau (pigmen biru), garam sodium sitrat dan tepung sagu. Ciri khasnya berwarna biru.

Pigmen yang biasa digunakan prussian blue. Merupakan senyawa kompleks dari besi. “Efek membersihkan saya kira dari garam sodium sitratnya,” ungkapnya saat dihubungi Radar Jogja (4/11).

Penggunaan sodium sitrat untuk buffering, menjaga power of hydrogen. Sedangkan tepung sagu berfungsi sebagai bahan pengisi mengikat sodium sitrat.
Warna prussian blue pada blau cuci beragam. Ada yang biru pekat dan ada yang muda, gradasi menuju putih. Perbedaan warna ini dikarenakan bahan komposisinya berbeda antara zat pewarna dan pengisinya, yakni tepung sagu.

Kesan biru pada blau memberikan efek bersih dan lebih cerah. Dibandingkan dengan zat pemutih yang hanya berwarna putih. “Karena kalau putih saja akan ada warna kekuningan atau kecoklatan,” tambahnya.

Pria yang akrab disapa Robby ini menuturkan, meski sifat membersihkan hingga memberikan efek putih pada pakaian, lain dengan bleaching yang dapat mengubah warna menjadi putih. Sehingga aman, tidak mengikis serat kain. “Karena juga tidak untuk pemakaian yang wajar (setiap saat, Red),” ujarnya.

Blawu tidak mengandung zat aktif. Zat aktif hanya ditemukan pada deterjen atau sabun, sebagaimana pada pencuci lainnya. Pada dasarnya, blau pewarna biru yang sangat encer. Jika terlalu banyak digunakan dapat memberikan warna pada pakaian. Bahkan ketika larutannya tercampur rata.

Terkadang efek ini digunakan untuk mengembalikan warna tampilan asli pada jeans biru. Sementara blau paling baik bekerja pada pakaian putih. “Itu juga dapat digunakan untuk mencerahkan warna,” bebernya.

Salah satu alasan orang cenderung menggunakan blau dari pada pemutih, karena pemutih dapat merusak tekstil. Bahan aktif pada pemutih mengandung senyawa klorin atau hydrogrn preoksida.

Blau tidak membahayakan selama penggunaan wajar. Namun jika terlalu pekat dan limbah dibuang ke perairan sungai, dapat mengganggu eksosistem dan kandungan oksigen dalam air.

Dulu serbuk blau kerap digunakan untuk mengobati penyakit gondong pada leher. Dengan cara mengoleskannya ke bagian gondong. Dimungkinkan karena kandungan sodium sitrat bersifat antijamur. Namun Robby menilai blau tidak dapat meredam bengkak. Karena bengkak itu dari dalam tubuh, sementara blau hanya dioleskan di leher. “Itu sepertinya mitos saja. Lebih karena sugesti,” tandasnya. (mel/laz) Editor : Editor Content
#Universitas Gadjah