Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Disdag Dorong Pembayaran Digital

Editor Content • Kamis, 3 November 2022 | 16:58 WIB
GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
RADAR JOGJA - Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Jogja terus mendorong penggunaan pembayaran digital. Pengembangannya juga dilakukan pula di pasar-pasar rakyat sebagai transisi pengembangan pasar merespons life style generasi saat ini.

Kepala Disdag Kota Jogja Veronica Ambar Ismuwardani mengatakan, pembayaran digital sudah jadi tuntutan saat ini. Ditemui di sela kegiatan Disdagfest di PASTY, Ambar menyebutkan akan memulai pengembangan transaksi digital di tiga pasar utama. Yakni Pasar Beringharjo, Pasar Prawirotaman, dan PASTY. "Di Beringharjo, hampir semua pedagang bisa menerima pembayaran digital," ucapnya.

Selanjutnya, Disdag berencana untuk meluaskan pengembangan transaksi digital di pasar rakyat lainnya. Selain itu, kerja sama juga dilakukan terhadap lintas bank. "Konsumen nggak cuma pakai satu bank saja. Jadi itu harus diwadahi, kami terbuka untuk kerja sama dengan bank apa saja," ungkapnya.

Terpisah, pemilik warung mi di Lowanu, Umbulharjo, Kota Jogja Damar Budi Sasono membenarkan, pengguna pembayaran digital mayoritasnya adalah generasi muda. Kendati begitu, Damar ingin lebih banyak orang yang terdorong menggunakan pembayaran digital. " Kalau bayar cash harga mi satu porsi Rp 16.000. Tapi kalau bayar pakai Qris Rp 14.500," bebernya.

Pria 34 tahun ini menyebut, mayoritas pelanggannya adalah keluarga. Jumlah generasi muda yang jajan ke warungnya diperkirakan hanya sekitar 30 persen. Sehingga Damar merasakan pelanggannya belum akrab dengan pembayaran digital. Tapi dia ingin, saldonya yang tersimpan di bank bertambah. "Sebenarnya kalau aman biasa, semua aman. Tapi saya ingin lebih banyak orang yang pakai pembayaran digital," lontarnya.

Sementara pedagang di Pasar Giwangan Dwi Setyowati ogah menggunakan pembayaran digital. Menurut perempuan 45 tahun ini, pembayaran digital menyukitkannya dalam bertransaksi dengan juragan sayur. Lantaran belum terbangun sistem perdagangan digital di Pasar Giwangan. "Bayar pakai barcode koyoke malah ribet. Soalnya uang penjualan juga muter buat bayar lagi," tandasnya. (fat/din) Editor : Editor Content
#Disdag Kota Jogja #pembayaran digital #Jogja