Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tak Ingin Jadi Keranjang Sampah Raksasa

Editor Content • Senin, 24 Oktober 2022 | 13:38 WIB
ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA
ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA
RADAR JOGJA - Ada yang menarik di bawah Jembatan Wreksodiningrat, Kali Code, Sinduadi, Sleman, kemarin (23/10). Aksi melukis bersama Perupa Jogja digalakkan di bantaran Code itu. Selain menangkap keindahan sungai, aksi juga menyuarakan isu lingkungan.

“Aksi ini dibuka umum bagi yang ingin bergabung melukis bersama. Kami juga menghadirkan 25 perupa serta pameran seni rupa artology bertajuk river culture,” kata Ketua Pelaksana Kegiatan Heri Susila di lokasi kemarin (23/10).
Aksi diikuti lintas profesi. Mulai petani, pelajar, mahasiswa, hingga artis profesional. Mereka melukis bersama menangkap keindahan bantaran Kali Code dari berbagai sudut pandang masing-masing peserta.

Dia berharap, berangkat dari sungai tumbuh kesadaran budaya serta kesadaran melestarikan sungai. Apalagi sungai itu mengalir ke jantung Kota Jogja. Jangan sampai keindahannya tercemari dengan perilaku abai, membuang sampah ke sungai. “Jangan sampai sungai jadi keranjang sampah raksasa,” tutur pria asal Pakembinangun, Pakem, Sleman, ini.

Pameran ini ingin mengajak kesadaran masyarakat agar melestarikan sungai sehingga mampu memberikan dampak positif. Baik dari sisi sosial, budaya maupun ekonomi. “Demikian juga bagi seniman, agar mampu merawat tatanan sosial ekologi yang ideal,” tambahnya.

Aksi melukis ini juga diwarnai dengan workshop melukis bersama anak-anak bantaran Kali Code, Sinduadi, Mlati. Kemudian berlanjut workshop ecoprint, pembuatan sibori, diskusi seni rupa, gejok lesung. Juga pemaran lukisan, dansa deder dan demo memasak untuk umum.

Kegiatan ini kali pertama di gelar di bawah Jembatan Wreksodiningrat. Pameran ini merupakan rangkaian festival tujuh candi oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, yang digelar tiga hari, sejak Sabtu sore (22/10) yang diawali dengan pertunjukan gamelan. Kegiatan berakhir hari ini ditutup dengan performance art serta tari-tarian.

Joko Mawardi, 50, salah satu peserta kegiatan asal Kulonprogo mengaku, baru pertama bergabung melukis on the spot ini. Di memorinya, melekat kuat keasrian sungai. Kemudian keasrian sungai itu dia tuangkan ke dalam kanvas berukuran 50 x 50 cm. Melalui goresan artistik bergaya naturalis.
“Saya gambarkan dengan suasana sejuk, asri dan tenang, meski kondisi sungai sekarang berbanding terbalik, penuh sampah. Bangunan yang saya gambar Gedung Fakultas Teknik UGM,” terangnya. (mel/laz) Editor : Editor Content
#Sleman